Showing posts with label 1. Hollow Earth. Show all posts
Showing posts with label 1. Hollow Earth. Show all posts

Thursday, June 25, 2015

Penemuan Piramida di Mars Munculkan Perdebatan

Penemuan Piramida di Mars Munculkan Perdebatan

CNN Indonesia
Penemuan Piramida di Mars Munculkan PerdebatanCuriousty Rover mengambil gambar penampakan Piramida di Planet Mars (Dok. NASA)
JakartaCNN Indonesia -- Semakin banyak temuan menarik di Planet Mars. Informasi terbaru menyebutkan robot penjelajah Curiousity Rover berhasil mencitrakan gambar kondisi terkini dari planet merah tersebut. Foto yang dikirimkan ke Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) ini cukup mengejutkan.

Sebab, di gambar tersebut robot penjelajah ini mengangkap gambar dari bentuk Piramida yang tampak sempurna di salah satu dataran di Mars. Bagi orang yang percaya pada kehidupan lain ini bisa menjadi alat bukti teori konspirasi peradaban alien.

Dikutip dari Mirror, Rabu (24/6) Piramida yang terekam oleh Curiousity Rover ini dianggap mempunyai ukuran sebesar mobil, dan kebanyakan orang percaya itu tidak lebih dari sebuah formasi batuan semata.

Namun, saluran YouTube bernama ParanormalCrucible yang menayangkan video soal piramida di Mars ini bersikeras bahwa desain piramida ini terlalu sempurna untuk dibuat sebagai kebetulan semata. Sebab ini seperti hasil reancangan cerdas dan tentu saja tidak ada trik cahaya dan bayangan. 

Teori aneh lain menunjukkan piramida hanya ada tampak di ujung dari struktur yang lebih besar terkubur di bawah tanah. Sementara itu tidak ada konfirmasi resmi dari NASA mengenai kehadiran bebatuan berbentuk piramida yang menimbulkan perdebatan tersebut.

Akhir tahun lalu, robot penjelajah, Curiosity Rover, mendapatkan beberapa temuan yang diperkirakan planet merah ini pernah memiliki sebuah danau besar di atas permukaan tanah.

Hal ini disimpulkan berdasarkan temuan dari Pegunungan Sharp di Mars. Pegunungan dengan tinggi hampir 5.000 meter ini berada di sekitar Kawah Gale yang ada di planet Mars.
Penampakan Piramida di Mars (Dok. NASA)

Gunung ini ternyata terbuat dari berbagai jenis dan lapisan sedimen, di mana lapisan ini kemungkinan besar disebabkan oleh adanya kandungan air berupa danau atau sungai. (tyo/adt)


Sumber:
http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20150624105109-199-62033/penemuan-piramida-di-mars-munculkan-perdebatan/



Terungkap Bahwa Bumi Pernah Kiamat Enam Kali

Terungkap Bahwa Bumi Pernah Kiamat Enam Kali


Terungkap Bahwa Bumi Pernah Kiamat Enam Kali

Terungkap, Bahwa Bumi Pernah Kiamat Enam Kali, Apa Buktinya?
Sebuah penelitian telah dilakukan oleh David Bond dari University of Hull dan tentu ia tidak sendirian, ada tim yang membantunya untuk melakukan riset ilmiah ini yang tepatnya di Spitsbergen. Spitsbergen sendiri adalah sebuah pulau yang dari pulau utama Norwegia yang memiliki jarak 890 kilometer. Dari tempat inilah segala bukti diupayakan untuk dikumpulkan mengenai “kiamat” keenam tersebut.

- Kapp Starosin Formation adalah hal pertama yang diteliti oleh Bond dan timnya. Lapisan batuan yang memiliki ketebalan hingga 400m tersebut ada ditemukan di area Spitsbergen dan dengan itulah kondisi 27 juta tahun masa Permian Tengah akhirnya tercerahkan alias tim Bond mendapatkan petunjuk sehingga peristiwa Capitanian dapat dianalisis lebih jauh.

- Bumi pernah kiamat enam kali dan peristiwa Capitanian menjadi salah satu yang perlu untuk dipelajari lebih dalam. Ada kesamaan yang ditunjukkan oleh data dari lapisan batuan yang diteliti oleh Bond dengan data tentang peristiwa Capitanian yang pengambilannya dari daerah tropis. Telah dikonfirmasi bahwa ada korelasi ditunjukkan oleh lapisan batuan itu dengan lapisan batuan di area tropis yang merupakan hasil dari analisis rasio isotop karbon dan stronsium berikut polaritas magnetik dan aneka macam logam.

- Analisis berlanjut karena Bond ingin membuktikan bahwa kepunahan massal itu menjadi dampak pada penurunan populasi satwa tertentu maka populasi moluska jenis bivalvia dan brachiopoda ditelitinya. Bumi kiamat enam kali dan memang peristiwa Capitania ditunjukkan oleh populasi brachiopoda yang menurun sampai 87 persen yang cukup besar.

- Disimpulkan oleh Bond dan timnya bahwa erupsi Emeishan Trapslah yang menyebabkan kepunahan massal yang lokasinya ada di provinsi Sichuan, Tiongkok. Ada banyak karbon dioksida yang dilepaskan dan kandungan oksigen dalam laut pun berkurang serta pengasamannya.

- Ada lagi Kiamat Permian Akhir di mana korbannya adalah 96 persen spesies musnah dan merupakan kematian massal berikutnya, 12 juta tahun setelah peristiwa Capitanian dan memang lebih dahsyat. Dengan jarak waktu yang agak dekat, maka Permian Akhir dan Capitanian sering dianggap satu.

Kiamat bumi karena Capitanian kadang juga dianggap sebagai kiamat regional karena bukti dan dampak yang ditemukan pun hanya sedikit dan tidak banyak penelitian yang menganalisis hal ini. Yang jelas mengenai Permian Akhir dan Capitanian, Bond telah yakin bahwa keduanya bukan satu melainkan terpisah dan bisa dikategorikan sebagai kematian massal global. Terlepas dari penelitian dan kesimpulan yang dinyatakan oleh Bond, tentu selalu ada yang setuju dan ada pihak yang tidak dapat menerimanya sehingga hal ini tetaplah menjadi kontroversi.

Matthew Clapham yang berasal dari University of California menyatakan bahwa Capitanian seharusnya tidak dimasukkan ke dalam kategori kiamat global karena kematian massal bukanlah ditentukan oleh beberapa lusin spesies yang hilang di wilayah tertentu. Itulah yang dikutip oleh BBC tentang apa yang di pikiran Clapham soal hasil riset Bond di mana telah terungkap, bahwa bumi pernah kiamat enam kali.


Sumber:
http://log.viva.co.id/frame/read/aHR0cDovL3d3dy5rdW1wdWxhbm1pc3RlcmkuY29tLzIwMTUvMDYvdGVydW5na2FwLWJhaHdhLWJ1bWktcGVybmFoLWtpYW1hdC1lbmFtLmh0bWw=


Ancaman Kiamat, Dihantam Asteroid: Diam-diam NASA Beraksi?

Ancaman Kiamat, Dihantam Asteroid: Diam-diam NASA Beraksi?

KAMIS, 25 JUNI 2015 | 06:52 WIB
Ancaman Kiamat, Dihantam Asteroid: Diam-diam NASA Beraksi?
www.aeronoticias.com.pe
TEMPO.COJakarta - Mungkin masih segar dalam ingatan kita saat ilmuwan Profesor Brian Cox pernah  mengatakan bahwa kita tengah menghadapi risiko berhadapan dengan asteroid, tapi kita tidak menganggapnya secara serius.

“Ada asteroid dengan nama kita terpancang di sana yang akan menghantam kita,” kata Cox, 46 tahun, kepada MailOnline

Kenyataannya, bumi yang nyaris kiamat itu hampir terjadi beberapa bulan lalu. “Kita tidak melihatnya,” ujar Cox. “Kita melihat jalan keluarnya, tapi jika kita meleset sedikit saja, asteroid itu akan melenyapkan kita. Hal-hal seperti ini bisa saja terjadi.”



Baru-baru ini, pada Maret lalu, diketahui ada sebuah asteroid yang dinamakan 2014 EC berjarak sekitar 61.637 kilometer dari bumi, atau sekitar seperenam jarak antara bulan dan bumi. Dan itu bukan satu-satunya asteroid yang mengancam bumi. The National Aeronautics and Space Administration (NASA) baru-baru ini tengah melacak keberadaan 1.400 asteroid yang berpotensi membahayakan bumi dan diperkirakan ke depan akan mencapai bumi serta memberikan dampak terhadap planet ini. 


Ancaman serius asteroid ini juga digambarkan mantan astronot Ed Lu. Dia menggambarkan asteroid itu sebagai cosmic roulette, dan yang membuat manusia bisa selamat dari dampak serius hanyalah satu “kedipan kemujuran”.

Para ahli mempercayai ada sekitar 1 juta asteroid yang berada di dekat bumi, yang bisa saja mengancam planet bumi. Namun, sejauh ini, hanya sebagian kecil yang sudah berhasil dideteksi.

Bukti dramatik yang bisa disebutkan di sini adalah saat obyek tak dikenal meledak di atas Chelyabinsk, Rusia, dengan kekuatan 20-30 kali dari bom atom Hiroshima. Ini merupakan kejadian yang mengejutkan setelah sebelumnya terjadi peristiwa Tunguska pada 1908. Tunguska adalah kerusakan hutan yang luas di Siberia setelah obyek tak dikenal memasuki atmosfer bumi.



Selama sekitar dua dekade, The National Aeronautics and Space Administration (NASA) terus-menerus melakukan pencarian asteroid berbahaya yang bisa mengancam bumi dengan ukuran lebih dari 1 kilometer. NASA mengklaim telah berhasil 98 persen di antaranya.

Namun perusahaan yang bermitra dengan NASA, Planetary Resources, menyebutkan alat pendeteksi asteroid itu baru bisa mendeteksi 1 persen obyek-obyek yang mengitari matahari.

DAILY MAIL | GRACE S GANDHI


Sumber:
http://tekno.tempo.co/read/news/2015/06/25/061678144/Ancaman-Kiamat-Dihantam-Asteroid-Diam-diam-NASA-Beraksi?ref=yfp


Tuesday, June 23, 2015

Gerak Bumi Melambat, Dulu Sehari Semalam Cuma 23 Jam




Gerak Bumi Melambat, Dulu Sehari Semalam Cuma 23 Jam

Selasa, 23 Juni 2015 | 11:05 WIB
Japan Meteorological AgencyWajah Bumi dari luar angkasa seperti diambil satelit Himawari 8 milik Jepang. Bumi tampak lebih abu-abu.


KOMPAS.com — Anda berpikir bahwa sehari semalam sepanjang sejarah kehidupan itu selalu sama? Kalau ya, Anda salah.

Waktu sehari semalam yang ditentukan berdasarkan waktu yang dibutuhkan untuk Bumi dalam melakukan satu rotasi pada porosnya ternyata bervariasi.

Ilmuwan mengetahui variasi itu lewat penelitian puluhan tahun dengan teknik very-long baseline interferometry (VLBI).

Intinya, ilmuwan mengukur waktu sehari semalam di berbagai lokasi sepanjang waktu, kemudian membandingkannya.

1,7 milidetik per 100 tahun

Hasil penelitian panjang dengan VLBI, dipadu dengan riset lain berbasis fosil, mengungkap bahwa rotasi Bumi semakin melambat. 

Sebab pelambatan rotasi Bumi adalah gaya tidal Bulan. Bulan sendiri semakin bergerak menjauh dari Bumi.

Studi oleh fisikawan University of Durham, FR Stephenson dan rekannya, LV Morrison, mengungkap bahwa dalam waktu 100 tahun, kecepatan rotasi Bumi melambat 1,7 milidetik.

Durasi waktu tersebut memang sangat singkat. Mengedipkan mata saja butuh waktu lebih dari itu. Namun bila diakumulasi dalam jangka panjang, perbedaannya bisa besar. 

Perbedaan yang besar itu akan membuat prakiraan dan pengukuran tidak akurat. Contohnya ketika kita ingin memperkirakan puncak fenomena gerhana pada masa Babilonia pada 136 SM.

Dengan variasi rotasi, eror yang dihasilkan dari perhitungan bisa mencapai 48,8 derajat karena perbedaan waktu total mencapai 11.700 detik.

Sehari semalam cuma 23 jam

Bukti bahwa variasi sehari semalam bisa besar diungkapkan oleh Daniel MacMillan dari Goddard Space Flight Center Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

"Pada masa dinosaurus, Bumi menyelesaikan satu rotasi selama 23 jam," katanya seperti diterangkan di situs NASA pada 2012 lalu.

"Tahun 1820, rotasi tepat 24 jam, 86.400 detik. Sejak 1820, hari matahari rata-rata meningkat sekitar 2,5 milidetik," imbuhnya.

RA Nelson dan rekan dalam makalah "Leap Second, Its History and Possible Future" dalam jurnal Metrologia volume 38 tahun 2001 mengungkap fakta mengejutkan.

Menurut mereka, karena gaya tidal dan sebab-sebab lain, dalam 2.000 tahun, Bumi telah kehilangan waktu 3 jam.

Detik kabisat

Untuk menjaga waktu tetap standar sekaligus sesuai dengan apa yang terjadi dengan Bumi, Bulan, dan Matahari, ilmuwan kemudian menggagas detik kabisat pada tahun 1972.

Konsepnya, penambahan atau bahkan bisa pengurangan satu detik pada waktu-waktu tertentu sehingga waktu tetap sinkron dengan rotasi Bumi.

Detik kabisat sendiri muncul berkat kemajuan pengukuran waktu, terutama detik, secara lebih presisi dengan atom sesium.

Tahun 2015 adalah salah satu tahun yang akan memiliki detik kabisat. Satu detik akan ditambahkan pada tanggal 30 Juni 2015 nanti.

Ada sejumlah kalangan yang menghendaki penghapusan detik kabisat karena justru merepotkan secara teknologi. Misalnya, membuat sistem komputer eror.

Walau demikian, kalangan lain, misalnya Moedji Raharto dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan bahwa detik kabisat tetap perlu untuk menjaga presisi waktu.

Di samping itu, jika detik kabisat dihapus, maka, dalam jangka panjang, perubahan besar dipercaya akan terjadi dalam waktu pergantian musim dan lainnya.

NASA sendiri memprediksi bahwa jika detik kabisat dihapus, maka, dalam 500 tahun, waktu di Bumi akan berbeda 25 menit dengan waktu menurut gerakan rotasi dan revolusi Bumi yang sebenarnya.



Editor: Yunanto Wiji Utomo


Sumber:http://sains.kompas.com/read/2015/06/23/11052601/Gerak.Bumi.Melambat.Dulu.Sehari.Semalam.Cuma.23.Jam?





Ilmuwan Amerika: Manusia akan Punah untuk ke-6 Kali

Ilmuwan Amerika: Manusia akan Punah untuk ke-6 Kali
Banyak spesies di bumi yang menghilang 100 kali lebih cepat.
Selasa, 23 Juni 2015 |
Oleh : Siti Sarifah Alia
Ilmuwan Amerika: Manusia akan Punah untuk ke-6 Kali
Ilustrasi asteroid hantam bumi (The Sidney Morning Herald)

VIVA.co.id - Para ilmuwan percaya manusia sedang memasuki masa kepunahan massal. Kepunahan ini terjadi untuk keenam kalinya sejak bumi tercipta.

Sekelompok tim ilmuwan asal Amerika mengklaim jika studi yang mereka lakukan telah menunjukkan proses kepunahan itu tanpa keraguan. Studi tersebut menunjukkan banyak spesies di bumi yang menghilang 100 kali lebih cepat dari biasanya.
 

Cepatnya spesies-spesies ini punah akan berakibat pada ancaman dan bencana terhadap eksistensi kehidupan manusia. Ekosistem pun akan rusak. Seperti terganggunya panen karena tak ada lagi serbuk dari serangga atau pemurnian air di lahan basar yang juga bisa beresiko.

"Pada tingkat kehilangan spesies, manusia akan kehilangan banyak manfaat keanekaragaman hayati sepanjang tiga generasi. Kita semakin punah dari hari ke hari," ujar Paul Ehrlich, Profesor Studi Populasi dalam Biologi, yang juga pengajar di Stanford Woods Institute untuk Lingkungan.

Dilansir melalui
 Mail Online, Selasa 23 Juni 2015, penelitian ini sempat diterbitkan di jurnal Science Advances. Penulis penelitian itu khawatir jika 75 persen dari spesies di bumi hari ini akan punah dalam kurun dua generasi mendatang.

"Jika dibiarkan terus berlanjut, butuh waktu jutaan tahun bagi kehidupan untuk pulih kembali. Namun seiring dengan itu, akan semakin banyak lagi spesies yang menghilang," tambah Gerardo Ceballos dari Universidad Autónoma de México.

Menurut mereka, populasi manusia yang terus tumbuh dan konsumsi per kapita yang meningkat telah menjadi penyebab punahnya habitat alam. Beberapa penyebabnya adalah pembebasan lahan baik untuk gedung maupun ilegal logging, invasi spesies yang tidak seimbang, emisi karbon yang memicu perubahan iklim dan pengasaman air laut, racun yang meningkat berikut ekosistemnya di seluruh dunia.

Menurut para ilmuwan, manusia di bumi telah mengalami lima kali masa kepunahan. Mereka menyebutnya sebagai kepunahan massal, yang kerap diasosiasikan dengan hantaman meteor.

Kepunahan pertama pada akhir era Ordovician, merupakan kepunahan pertama dari lima yang pernah terjadi. Berlangsung sekitar 440 juta tahun lalu. Untungnya, semua kehidupan berada di lautan pada saat itu, namun 85 persen spesies punah.

Kepunahan kedua terjadi di akhir era Devonian, sekitar 375 atau 359 juta tahun lalu. Terjadi perubahan lingkungan besar-besaran yang disebabkan kepunahan dari banyak kelompok ikan dan menghentikan perkembangan terumbu karang selama 100 juta tahun.

Kepunahan ketiga di akhir Era Permian atau disebut juga sebagai kepunahan paling hebat. Ini mempengaruhi ekologi bumi yang terjadi 252 juta tahun lalu. 97 persen spesies punah dan berubah menjadi fosil sekarang.

Kepunahan keempat di akhir zaman Triassic, atau masa akhir hidup dinosaurus. Sebelumnya, amfibi dan reptil mirip mamalia menjadi hewan daratan yang dominan. Namun kepunahan yang muncul 201 juta tahun lalu mengubah itu semua.

Kepunahan terakhir terjadi di akhir zaman Cretaceous. Sebuah asteroid kala itu menabrak bumi 66 juta tahun lalu. Ini juga yang kerap disalahkan sebagai akhir dari era dinosaurus. (ren)


Sumber:

http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/641501-ilmuwan-amerika--manusia-akan-punah-untuk-ke-6-kali?ref=yfp

Sunday, June 21, 2015

Heboh Kiamat September Tahun Ini, NASA Ungkap Faktanya

Heboh Kiamat September Tahun Ini, NASA Ungkap Faktanya  

SELASA, 09 JUNI 2015 | 07:43 WIB
Heboh Kiamat September Tahun Ini, NASA Ungkap Faktanya  
Asteroid. dailymail.co.uk
TEMPO.COJenewa - Teori konspirasi yang memprediksi sebuah peristiwa dahsyat yang berkaitan dengan iklim akan terjadi dalam waktu tiga bulan. Peristiwa itu diperkirakan terjadi sekitar 22-28 September 2015. Salah satu bentuknya, asteroid yang menghantam Bumi.  Juru bicara Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) menyangkal adanya asteroid yang menghajar Bumi.

Juru bicara yang tidak disebutkan namanya itu berujar deteksi keberadaan asteroid menjadi prioritas utama NASA. "Kemungkinan tabrakan kecil, NASA tak mendeteksi adanya asteroid atau komet di jalur yang akan bertabrakan dengan Bumi," katanya seperti dilansir Mirror, Senin, 8 Juni 2015.


Juru bicara itu mengatakan hampir semua asteroid akan hancur sebelum menyentuh bumi karena adanya suhu ekstrem akibat gesekan atmosfer. "Bahkan, kami menjamin tidak ada obyek besar yang kemungkinan bakal menyerang Bumi dalam beberapa ratus tahun ke depan," kata dia.

NASA juga mengembangkan strategi mengidentifikasi asteroid yang mungkin menimbulkan risiko menghantam Bumi. Mereka tengah mencari opsi lain untuk pertahanan planet. Para ahli yang mengusung teori konspirasi mempercayai peristiwa jatuhnya asteroid itu memicu munculnya New World Order (NWO) yang disponsori kelompok Illuminati.

Tanggal yang paling sering dikutip mengenai kiamat tersebut adalah pada 24 September. Beberapa teori meramalkan peristiwa kiamat itu dimulai dari proyek The Large Hadron Collider yang digagas oleh CERN, organisasi penelitian nuklir Eropa yang bermarkas di Jenewa, Swiss.

Mesin itu dibuat ilmuwan untuk memecahkan partikel yang diharapkan menjawab pertanyaan dalam fisika kuantum. Teori tentang waktu terjadinya kiamat pernah diutarakan penyiar Kristen Harold Camping pada 2011. Ia meramalkan dunia berakhir pada 21 Mei di tahun yang sama. Namun tak ada kejadian apa pun.

MIRROR.CO.UK | LINDA HAIRANI

Sumber:
http://dunia.tempo.co/read/news/2015/06/09/116673311/Heboh-Kiamat-September-Tahun-Ini-NASA-Ungkap-Faktanya

Bumi Memasuki Fase Punah, Ini Hewan-hewan yang Terancam

Bumi Memasuki Fase Punah, Ini Hewan-hewan yang Terancam

MINGGU, 21 JUNI 2015 | 07:04 WIB
Bumi Memasuki Fase Punah, Ini Hewan-hewan yang Terancam
Lemur Madagaskar. fanpop.com
TEMPO.CO Jakarta: The International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyebutkan setidaknya 50 hewan mendekati kepunahan setiap tahunnya. Sekitar 41 persen ampibi dan 25 persen mamalia terancam mengalami kepunahan.

IUCN menambahkan 94 persen lemur terancam punah dan hampir seperlima dari semua jenis lemur bisa dibilang berada dalam kondisi kritis punah. Contoh yang paling terlihat adalah habitat di Madagaskar. Begitu wilayah hutan di kawasan itu hancur akibat pembalakan liar, lemur pun menghilang karena diburu.

Seperti diberitakan, sebuah studi yang dilakukan tiga perguruan tinggi di Amerika Serikat menyebutkan bumi kini tengah memasuki fase kepunahan baru. Dan hewan bertulang belakang (vertebrates), bahkan termasuk manusia, bisa saja menjadi korban yang pertama memasuki kepunahan itu.

Dalam laporan, yang studinya dipimpin oleh Univesitas Stanford, Princeton, dan Berkeley itu, disebutkan bahwa hewan bertulang belakang menghilang 114 kali lebih cepat dari normal. Penemuan ini juga pernah dilaporkan Duke University tahun lalu.

Salah satu penulis studi baru tersebut mengatakan, “Sekarang ini kita memasuki tahap keenam kepunahan massal,” ujarnya.

Kejadian serupa pernah terjadi 65 juta tahun yang lalu, ketika dinosaurus menghilang alias punah, yang diduga akibat adanya meteor luar biasa besar yang menghantam bumi.

“Jika ini sampai terjadi, butuh jutaan tahun untuk kembali pulih dan beberapa spesies hewan akan kembali hilang dari yang ada saat ini,” kata pimpinan peneliti, Gerardo Ceballos.

BBC | GRACE S GANDHI


Sumber:
http://tekno.tempo.co/read/news/2015/06/21/061676937/bumi-memasuki-fase-punah-ini-hewan-hewan-yang-terancam

Gawat, Tanpa Kiamat September pun Manusia Segera Punah!

Gawat, Tanpa Kiamat September pun Manusia Segera Punah!

MINGGU, 21 JUNI 2015 | 06:32 WIB
Gawat, Tanpa Kiamat September pun Manusia Segera Punah!
Ilustrasi bumi memasuki fase kepunahan baru. bbc.co.uk
TEMPO.COJakarta - Sebuah studi yang dilakukan tiga perguruan tinggi di Amerika Serikat menyebutkan bumi kini tengah memasuki fase kepunahan baru. Dan hewan bertulang belakang (vertebrates), bahkan termasuk manusia, bisa saja menjadi korban yang pertama memasuki kepunahan itu.

Dalam laporan, yang studinya dipimpin oleh Univesitas Stanford, Princeton, dan Berkeley itu, disebutkan bahwa hewan bertulang belakang menghilang 114 kali lebih cepat dari normal. Penemuan ini juga pernah dilaporkan Duke University tahun lalu. (Baca juga: Bumi Memasuki Fase Punah, Ini Hewan-hewan yang Terancam)


Salah satu penulis studi baru tersebut mengatakan, “Sekarang ini kita memasuki tahap keenam kepunahan massal,” ujarnya. Kejadian serupa pernah terjadi 65 juta tahun yang lalu, ketika dinosaurus menghilang alias punah.

Temuan mengejutkan itu muncul di tengah ketakutan banyak orang akan hancurnya bumi, bahkan disebut kiamat,  pada bulan September nanti akibat ditabrak oleh asteroid--spekulasi yang kemudian dibantah oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA). (Baca juga: Heboh Kiamat September Tahun Ini NASA Ungkap Faktanya)

Kepunahan hewan dan manusia--diprediksi terjadi tiga generasi lagi--itu otomatis akan menghancurkan kehidupan di bumi. “Jika ini sampai terjadi, butuh jutaan tahun untuk kembali pulih dan beberapa spesies hewan akan kembali hilang dari yang ada saat ini,” kata pimpinan peneliti, Gerardo Ceballos.

Para ilmuwan mempelajari sejarah tingkat kepunahan hewan bertulang belakang melalui catatan-catatan fosil yang tersimpan. Para ilmuwan menemukan tingkat kepunahan baru-baru ini 100 kali lebih tinggi dibanding pada masa-masa ketika bumi tidak mengalami kepunahan massal.



Sejak 1990, laporan studi itu menyebutkan, lebih dari 400 hewan bertulang belakang telah menghilang atau punah. Para ilmuwan mengatakan, kerugian akibat kepunahan ini baru akan terlihat setelah 10 ribu tahun.


Riset, yang dipublikasikan juga dalam jurnal the Science Advances ini, menyebut penyebab kepunahan lantaran perubahan iklim, polusi, serta penggungulan atau kerusakan hutan (deforestation).


Profesor Paul Ehrlich dari Stanford University mengatakan, “Ada beberapa contoh-contoh spesies di muka bumi ini yang saat ini tengah berjalan menuju kematian,” ujarnya.


BBC | GRACE S GANDHI

Sumber:
http://tekno.tempo.co/read/news/2015/06/21/061676930/Gawat-Tanpa-Kiamat-September-pun-Manusia-Segera-Punah?ref=yfp



Wednesday, June 3, 2015

Fenomena Black Hole, Sang Penghisap Alam Semesta

Fenomena Black Hole, Sang Penghisap Alam Semesta


Bermisteri - Fenomena Black Hole, Sang Penghisap Alam Semesta. Menelusuri berbagai fenomena antaraksia tidak akan ada habisnya karena dari sekian banyak kejadian-kejadian unik yang ada, menyimpan misteri tersendiri. Terdapat fenomena baru yang terungkap pada abad 20 yaitu fenomena Lubang Hitam atau Black Hole. Black Hole adalah sebuah objek yang memiliki massa yang cukup besar tetapi bervolume kecil/nol yang mengakibatkan gaya gravitasinya menjadi sangat besar, sehingga massa dan cahaya apa pun akan terhisap dan tidak akan mampu lepas dari daya tarik gravitasinya. Lalu, apakah black hole tercipta dengan sendirinya? atau tercipta dari sesuatu hal? Black Hole terbentuk ketika sebuah bintang kehabisan bahan bakar dan hancur ke dalam dirinya sendiri. Dengan catatan, gaya gravitasinya lebih besar dari pada energi atom dan nuklir internalnya, sehingga suatu objek tidak akan cukup kuat untuk menahan gaya gravitasinya sendiri dan pada akhirnya membentuk titik lubang Hitam di luar angkasa.

Fenomena Black Hole, Sang Penghisap Alam Semesta

Keberadaan Black Hole secara terotis sebenarnya pada abad ke-18 M telah dijelaskan oleh seorang geolog bernama John Michell dna pakar matematika, Pierre Simon Laplace. Dan Selanjutnya pada 1916 dikembangkan oleh astronom jerman bernama Karl Schwarzshild dengan mengacu pada taori relativitas umum Albert Einstein, dan mulai populer oleh Stephen William Hawking. Untuk penamaan Black Hole itu sendiri dipopulerkan oleh fisikawan John archibald Wheeler pada tahun 1967.

Berbagai penelitian dilakukan untuk mengungkap misteri lubang hitang tersebut, dan pada abad ke-20an penelitian akan keberadaan Black Hole mulai berkembang. Di tahun 2008, Nasa mengirimkan Fermi Gamma-ray Telescope untuk mengamati fenomena astrofisika dan kosmologi, seperti galaksi aktif, sumber energi tinggi, materi gelap, pulsar, dan ledakan sinar gamma (Hawking radiation Coomponet). Black Hole tidak bisa diamati hanya dengan teleskop biasa, akan tetapi dengan teleskop yang mampu mendeteksi cahaya tidak tampak. Dikarenakan Lubang Hitam tidak memancarkan cahaya bahkan justru menyerap cahaya, para astronom dapat mengukur cahaya tampak, sinar x, dan gelombang radio yang dipancarkan objek disekitar Lubang Hitam.

Yang menjadi daya tarik tersendiri akan keberadaan Black Hole atau lubang hitam ini adalah jumlahnya yang tidak sedikit. Menurut prediksi para ilmuan, Black Hole yang terdapat di alam semesta ini berjumlah ratusan hingga jutaan. Semakin besar dimensi galaksi yang ditempatinya, maka semakin besar pula dimensi lubang hitam tersebut. Meskipun secara teoretis dan penelitian ilmuan telah membuktikan adanya Lubang hitam, akan tetapi masih banyak hal yang mengundang penasaran pada ilmuwan. Contohnya saja tentang apa yang ada di dalam lubang hitam? Apa yang terjadi apabila masuk ke dalam lubang hitam? apakah benar Lubang hitam adalah jembatan antardimensi atau waktu? semua pertanyaan tersebut masih dalam penelitian lebih lanjut.
 
 
Sumber:
http://log.viva.co.id/news/read/633127-misteri-black-hole--sang-penghisap-alam-semesta?ref=yfp
 
 
 
 
 

Thursday, February 26, 2015

Penemuan Lubang Hitam Super Besar di Alam Semesta Menantang Ilmu Fisika

Penemuan Lubang Hitam Super Besar di Alam Semesta Menantang Ilmu Fisika

Jumat, 27 Februari 2015 00:00 WIB

Para ilmuwan mengungkapkan, penemuan lubang hitam super besar dari masa awal alam semesta, diperkirakan akan mengubah ilmu fisika.

Dalam jurnal berjudul ‘Nature’ disebut, sekelompok tim astronom internasional mendeteksi lubang hitam sebesar 12 miliar kali massa Matahari.

Lubang hitam, yang terbentuk 900 juta tahun setelah ‘Big Bang’ atau ledakan dahsyat, adalah sumber dari sinar yang kuat dari obyek terang, yang dikenal sebagai ‘quasar’.

"Ketika kami menemukan lubang hitam super besar ini, kami sangat gembira karena kami telah menemukan sesuatu yang kami pikir tak pernah bisa temukan sebelumnya," ungkap Dr Fuyan Bian dari Universitas Nasional Australia.

Tim ini, yang dipimpin oleh Xue-Bing Wu dari Universitas Peking, menemukan lubang hitam dan ‘quasar’ - yang dikenal sebagai SDSS JO100 + 2.802 – dengan menggunakan sistem teleskop ‘Sloan Digital Sky Survey’, kemudian ditindaklanjuti dengan tiga teleskop lainnya.

Teori fisika baru dibutuhkan untuk menjelaskan ‘quasar’ dari lubang hitam superbesar kuno, yang sebesar 14 miliar kali massa matahari. (Foto: NASA/Caltech)
Dengan sinar yang 420 triliun kali lebih terang daripada matahari, quasar yang baru ini tujuh kali lebih terang dari quasar paling jauh yang diketahui.

"Quasar ini sangat unik. Sama seperti mercusuar terang di alam semesta, cahayanya yang bersinar akan membantu kami menyelidiki lebih lanjut tentang pembentukan awal alam semesta," tutur Xue-Bing.

Menantang fisika
Namun, penemuan lubang hitam super besar yang memberi daya pada ‘quasar’, menimbulkan misteri: bagaimana lubang hitam rakasa seperti itu bisa tumbuh begitu cepat di masa awal alam semesta?

"Sangat sulit untuk membuat lubang hitam super besar seperti ini pada masa awal alam semesta. Kami perlu menemukan beberapa teori baru yang dapat menumbuhkan lubang hitam superbesar jauh lebih cepat dari yang kita duga," jelas Xue-Bing.

Lubang hitam super besar diyakini telah terbentuk dalam hubungannya dengan galaksi di masa awal alam semesta, tapi menurut teori saat ini, harus ada keseimbangan kekuatan yang hati-hati untuk menciptakan sebuah lubang hitam.

Ketika obyek berakselerasi menuju lubang hitam di bawah gravitasi, ia memanas, memancarkan jumlah energi yang luar biasa dalam bentuk ‘quasar’.
Tetapi energi ‘quasar’ sebenarnya mendorong obyek menjauh dari lubang hitam, sehingga jika terlalu besar, ia bisa menghentikan obyek itu jatuh ke ke lubang hitam.

Kekuatan ini harus seimbang, yang membatasi seberapa cepat lubang hitam dapat tumbuh. Fakta ini, yang dikombinasikan dengan sejumlah kecil masalah yang muncul di alam semesta awal, mempersulit para ilmuwan untuk menjelaskan bagaimana lubang hitam superbesar itu muncul.

"Dengan lubang hitam super besar ini di masa awal pembentukan alam semesta, teori itu tak bisa dipakai. Sudah waktunya ada hipotesis baru dan beberapa teori fisika baru," utara Dr. Fuyan.


Sumber:
http://www.tribunnews.com/australia-plus/2015/02/27/penemuan-lubang-hitam-super-besar-di-alam-semesta-menantang-ilmu-fisika