Showing posts with label 7.4. Piramida Amerika. Show all posts
Showing posts with label 7.4. Piramida Amerika. Show all posts

Tuesday, May 12, 2015

Arkeolog Temukan Air Raksa Dalam Piramid Aztec

Arkeolog Temukan Air Raksa Dalam Piramid Aztec

 28 April, 2015 - 14:09
ARKEOLOG Sergio Gomez menemukan air raksa di dalam piramida yang disegel selama 1.800 tahun.*
REUTERS/PRLM
ARKEOLOG Sergio Gomez menemukan air raksa di dalam piramida yang disegel selama 1.800 tahun.*
MEXICO CITY, (PRLM).- Seorang arkeolog Meksiko telah menemukan air raksa cair dalam jumlah besar di terowongan piramida pra-Aztec di Teotihuacan, sebuah kota kuno misterius di Mexico.
Sergio Gomez menemukan logam keperakan tersebut di awal bulan ini di sebuah kamar di ujung terowongan yang disegel selama hampir 1.800 tahun.
Dan karena potensi supranatural dari air raksa begitu signifikan dalam sebuah ritual, Gomez berharap di kompleks yang lebih dalam bisa menemukan kuburan raja pertama Teotihuacan
"Ini adalah sesuatu yang benar-benar mengejutkan kami," kata Gomez di pintu masuk ke terowongan di bawah Piramida Ular Berbulu, Teotihuacan sekitar 30 mil timur laut dari Mexico City.
Jika Gomez benar, seperti diberitakan Daily Mail, Senin (27/4/2015), hal itu bisa membantu menyelesaikan perdebatan tentang bagaimana kekuasaan dipegang di Teotihuacan, jantung kerajaan kuno yang berkembang antara 100 dan 700 Masehi,
Gomez tidak yakin mengapa merkuri itu diletakkan di sana, namun ia memperkirakan logam ini mungkin telah digunakan untuk melambangkan sebuah sungai atau danau bawah tanah. Para arkeolog percaya logam cair ini mungkin memiliki makna supranatural untuk tujuan ritual. (Dede Suhaya/A-147)***


Sumber:
http://www.pikiran-rakyat.com/horison/2015/04/28/325233/arkeolog-temukan-air-raksa-dalam-piramid-aztec

Guachimontones, piramida hijau yang jadi permata arkeologi Meksiko


Guachimontones, piramida hijau 
yang jadi permata arkeologi Meksiko
Reporter : Tantri Setyorini | Rabu, 18 Februari 2015 12:06
Guachimontones, piramida hijau yang jadi permata arkeologi Meksiko
Guachimontones, Meksiko. ©2015 Merdeka.com/Atlas Obscura
Merdeka.com - Piramida yang seluruh permukaannya tertutup lumut dan rerumputan ini dikenal dengan nama Los Guachimontones. Letaknya di daerah Teuchitlan, dekat Gudalajara, Meksiko.
Piramida hijau ini merupakan warisan penting bagi ilmu arkeologi. Pasalnya Guachimontones sempat menjadi pusat kebudayaan kuno Teuchitlan.
Dilaporkan situs Atlas Obscura, peradaban tersebut ditengarai pernah membawa kejayaan di wilayah barat Meksiko sekitar tahun 300 SM-900 SM.
Guachimontones terdiri dari punden berbentuk lingkaran yang saling bertumpuk. Tepat di bagian tengah piramida terdapat sebuah lubang yang kemungkinan besar digunakan untuk menjalankan ritual keagamaan.
Di sekelilingnya terdapat beberapa punden berundak serupa yang tersusun dari sejumlah lempeng persegi.
Situs ini ditemukan oleh Phil Weigand, seorang penjelajah asal Amerika pada tahun 1969. Hingga saat kematian Weigand pada tahun 2008, di area itu telah ditemukan sekitar 200 situs serupa.
[tsr]

Sumber:
http://www.merdeka.com/gaya/guachimontones-piramida-hijau-yang-jadi-permata-arkeologi-meksiko.html

Sunday, December 14, 2014

Candi Berusia 4000 Tahun Di Peru

Candi Berusia 4000 Tahun Di Peru

 | 
Candi Ventarron masih terus digali para arkeolog Peru
Candi Berusia 4000 Tahun Di Peru
LIMA - Sebuah candi dengan banyak lukisan di dinding, diperkirakan berusia 4000 tahun, telah ditemukan dalam sebuah penggalian di pesisir barat Peru. Candi ini bisa jadi merupakan yang tertua di Amerika.

Candi tersebut ditemukan rusak cukup parah. Namun masih terlihat beberapa bangunan yang utuh seperti tangga menuju altar pemujaan, yang disebut para arkeolog sebagai Ventarron. Posisi candi berada di lembah Lambayeque, dekat komplek bangunan kuno Sipan yang juga pernah digali para arkeolog Peru pada tahun 1980. 

"Ventarron berusia jauh lebih tua dari Sipan, sekira 2000 tahun sebelum Yesus Kristus lahir." Usianya diprediksi telah mencapai 4000 tahun," ujar Walter Alva, kepala tim arkeolog Peru, yang juga Direktur museum Royal Tombs di Sipan, seperti dikutip Reuters, Minggu (11/11/2007). "Yang paling mengejutkan adalah metode konstruksi, desain arsitektur dan keberadaan lukisan dinding yang ternyata memiliki usia sangat tua," lanjut Alva.

Peru merupakan wilayah yang sangat kaya dengan penemuan arkeologi, termasuk Machu Picchu bangunan berbentuk benteng pertahanan masyarakat Inca di wilayah Andes. 
(srn)

Sumber:
http://techno.okezone.com/read/2007/11/11/56/60047/candi-berusia-4000-tahun-di-peru

Saturday, August 30, 2014

Bukti Manusia Raksasa Pernah Menguasai Amerika

Bukti Manusia Raksasa Pernah Menguasai Amerika
Dalam buku 'The Ancient Giants Who Ruled America: The Missing Skeletons and the Great Smithsonian Cover-Up' menceritakan artikel surat kabar dan foto, sumber orang pertama, catatan sejarah, dan laporan lapangan diilustrasikan selama kurun waktu 400 tahun.

Mata spesies raksasa yang punah, tulang mengisi gundukan Amerika, telah menatap pada Niagara, seperti yang kita lakukan sekarang. (Abraham Lincoln, 1848)
Richard J Dewhurst mengungkapkan bahwa Amerika Utara pernah diperintah oleh ras manusia raksasa, dan Smithsonian telah merahasiakan bukti fisik selama hampir 150 tahun. Sementara itu, dia juga menceritakan bahwa suku Indian di Amerika mencegah penelitian gundukan, meskipun mengakui bahwa mereka tidak membangunnya. Dewhurst adalah pemenang Emmy Award kategori penulis HBO dokumenter 'Dear America: Letters Home from Vietnam'. Dia menulis dan mengedit History Channel, Arts & Entertainment Channel, PBS, Fox Television dan Fox Films, ABC News, TNT, Paramount Pictures, serta Miami Herald. 

Bukti Fosil Manusia Raksasa Sejak 10,000 Tahun Lalu

Tak hanya kisah peradaban Olmec yang diselimuti patung-patung raksasa, gundukan di Virginia Barat merupakan kunci dalam memahami kisah nyata manusia raksasa yang pernah memerintah wilayah Amerika. Tidak hanya situs gundukan Virginia Barat di Charleston, Wheeling dan Moundsville, beberapa ukuran paling signifikan telah ditemukan di Amerika Serikat. Pada tahun 1883, Smithsonian mengirim tim arkeolog ke gundukan South Charleston yang dipimpin oleh Colonel Morris untuk melakukan penggalian ekstensif pada 50 gundukan. 

Manusia Raksasa

Laporan penggalian menjelaskan bahwa tim peneliti menemukan berbagai bukti keberadaan ras manusia raksasa, tinggi tubuh lebih ari ukuran manusia normal dan dihiasi enam gelang tembaga berat di setiap pergelangan tangan, dan pada bahu ditemukan tiga lempeng mika berukuran besar. Di gundukan lain, para penggali juga menemukan sebuah lingkaran dengan sepuluh kerangka raksasa dan kubah bawah tanah. Berbagai tembaga dan ornamen mika, barang-barang religius, pipa dan ujung tombak juga ditemukan disatu lokasi. 

Di kedalaman sembilan meter, kerangka raksasa lain ditemukan pada sisa-sisa kulit kayu dan peti mati. Dalam laporan temuan, raksasa ini memiliki tengkorak dari jenis terkompresi (Flat Head). Kerangka menunjukkan karakteristik 'kepala kerucut' mirip dengan yang ditemukan di Amerika Selatan dan Mesir. Sementara penggalian diwilayah lain, arkeolog menemukan kelompok ras raksasa dengan formasi tengkorak tidak biasa berbentuk dahi rendah dan miring kembali secara bertahap. Sedangkan bagian belakang kepala sangat menonjol, jauh berbeda dengan tengkorak manusia saat ini. 
Didekat penggalian tersebut telah ditemukan dinding sepanjang delapan mil dan kuil di puncak bukit. Pencarian fosil diteruskan hingga menyusuri Sungai Cheat pada tahun 1774, mereka menemukan pemukim yang mereka sebut The Giant Town, disana ditemukan berbagai kerangka manusia raksasa yang tingginya paling signifikan, tengkorak pria setinggi 8 kaki.
Sisa-sisa manusia raksasa kuno telah ditemukan di seluruh New York dan New England, setidaknya berasal dari tahun 9000 SM. Laporan penelitian Syracuse Herald American tahun 1983, antropolog dari Buffalo Museum of Science menyebutkan telah ditemukan 1400 artefak yang digali dari sebuah situs Phoenix Hill. Laporan sejarah tertulis 'A History of Livingston County, New York' yang diterbitkan pada tahun 1824, bahwa pada tahun 1811 sebuah gundukan Indian di Mount Morris telah digali dan ditemukan medali kasar, pipa dan fosil raksasa berukuran besar, tulang rahang yang besar.

Tahun 1871, laporan surat kabar Cayuga NY melaporkan bahwa 200 kerangka telah ditemukan direruntuhan gundukan tepi Grand River. Kerangka ini dalam keadaan sempurna dan fosil itu bertubuh raksasa, beberapa diantaranya berukuran sembilan meter, sangat sedikit yang kurang dari tujuh meter. Kota yang hilang juga ditemukan disebuah peternakan Dunville NY, berkaitan dengan dua ton arang dan berbagai alat yang menunjukkan bahwa situs tersebut merupakan sebuah 'workshop pandai besi'. Selain itu ditemukan kapak, tomahawk, manik-manik dan pipa rokok berukiran kepala anjing, tengkorak raksasa juga ditemukan dari ukuran yang sangat besar hingga dua kali ukuran manusia normal dengan berbagai bentuk.

Penemuan di Ohio mungkin paling banyak dan paling tidak biasa, fosil raksasa berukuran 8 hingga 10 kaki. Ada juga temuan tablet Cincinnati bertuliskan Hieroglif, tekstil yang menyerupai orang-orang Assyria dan Babilonia. Fosil tengkorak telah diperiksa oleh seorang ahli bedah dan membuktikan, bahwa telah terjadi operasi otak dimana teknologinya lebih unggul daripada saat ini, serta bukti metalurgi, tempa, terak, besi dan bahkan gergaji. 
Pada tahun 1888, sebuah kelompok militer Logan Grey dipimpin oleh AM Jones sedang latihan militer di sebuah pulau kecil di Eagle Lake dekat Warsaw, Indiana. Dibawah batu datar, mereka menemukan sebuah lubang mengarah ke pintu masuk sebuah gua rahasia yang panjangnya dua puluh lima meter, lebarnya sepuluh hasta dan delapan meter. Di dalamnya terdapat kerangka raksasa yang dimakamkan tepat disamping sungai, mereka menyebutnya kolam suci. 

Pada tahun 1889, dekat Kewanna ditemukan batu berdiri dan di bawahnya terdapat fosil raksasa. Sementara di Whitlock, raksasa lainnya juga ditemukan terkubur berkelompok dalam posisi duduk. Dalam laporan berjudul 'A History of Jennings County Indiana' yang diterbitkan pada tahun 1885, disebutkan bahwa pada tahun 1881 kerangka setinggi sembilan kaki ditemukan digundukan lokal, bersama dengan tubuh seorang anak berambut pirang. Pada tahun 1912 sebuah rahang sangat besar ditemukan, ciri-ciri unik memiliki baris gigi ganda.

Berita Manusia Raksasa

Situs Cahokia terletak di pertemuan utama sungai Mississippi, Missouri dan Illinois, tepatnya berada diseberang Sungai Mississippi (saat ini St Louis). Puncaknya terdiri dari 120 gundukan utama, gundukan biarawan merupakan yang terbesar berukuran 100 meter dengan dasar asli berkisar 1000 kaki. Pengukuran hingga ke dasar menunjukkan adanya kemiripan dengan Stonehenge dan Teotihuacan. 

Selama penggalian gundukan pemakaman selatan Monks Mound, arkeolog menemukan fosil seorang pria dimakamkan yang ditempat tidur dihiasi lebih dari 20,000 manik-manik kerang yang tersusun dalam bentuk elang, dengan kepala burung muncul dibawah dan disamping kepalanya, sayap dan ekor bawah berada di lengan dan kakinya. Arkeolog juga menemukan lebih dari 250 kerangka lain, sejarawan meyakini bahwa hampir 62 persen merupakan korban berdasarkan tanda-tanda eksekusi ritual dan metode penguburan. 

Pada tahun 1930, Don Dickson menemukan situs pemakan Neolitik terbesar didunia. Berada 90 km sebelah selatan Peoria di persimpangan Sungai Illinois. Bersama dengan University of Chicago, Dickson menggali 248 kerangka, situs ini diperkirakan memiliki lebih dari 3000 pemakaman, banyak perawakannya yang tidak biasa dan berukuran raksasa. Situs ini disebut Dickson Mounds Museum, mampu menarik perhatian 75,000 pengunjung per-tahun dimana mereka bisa melihat kerangka secara langsung. Pada tahun 1990, suku Indian setempat menyatakan bahwa situs ditutup dan fosil kembali dimakamkan dipemakaman suku mereka, meskipun tidak ada hubungan genetik antara fosil dan Indian setempat.

Laporan dari Oakland Tribune pada tahun 1926 tentang penemuan sebuah kota sepanjang enam mil di Nevada, menyebutkan adanya reruntuhan dalam garis berkelanjutan sepanjang enam mil dan lebarnya sekitar setengah mil. Garis-garis besar rumah batu terlihat jelas.
Pada tahun 1911, William Altmann asisten kurator Golden Gate Memorial Museum telah menemukan kerangka, gerabah, dan artefak di Port Costa, termasuk kerangka raksasa lebih dari tujuh meter. Kemudian pada tahun yang sama, Altmann melaporkan menemukan kerangka raksasa disebuah pulau Santa Barbara Channel. Pada tahun 1934, The Bakersfield California melaporkan bahwa Smithsonian dibawah arahan Dr WT Strong dan WM Walker menemukan 564 kerangka dan 4000 artefak dari serangkaian gundukan situs dekat Taft, California. 

Peneliti di Winnsboro LA terlibat dalam sebuah proyek drainase, dia menemukan fosil ras raksasa setinggi dua belas meter. Tengkorak dalam keadaan sempurna dan beberapa tulang rahang cukup besar. Di Alabama, 400 kerangka yang digali di Moundville oleh Alabama Museum of Natural History memperkirakan bahwa beberapa kerangka hidup sejak tahun 3000 SM dengan spesimen terbesar tingginya 7 kaki 6 inchi.

Indian Mandan, Suku Misterius Keturunan Manusia Raksasa?

Suku indian Mandan umumnya ditemukan di North Dakota sejak kontak pertama mereka dengan penjelajah Perancis pada tahun 1738. Suku indian Mandan bermata biru, pirang ataupun berambut merah, menjadi sumber spekulasi mengenai asal-usul mereka diduga dari Eropa. Pada tahun 1796, indian Mandan dikunjungi penjelajah Welsh John Evans, berharap untuk menemukan bukti bahwa bahasa mereka berisi kata-kata Welsh. Evans telah tiba di St Louis dua tahun sebelumnya dan setelah dipenjara selama satu tahun, dia dipekerjakan pemerintah Spanyol memimpin sebuah ekspedisi untuk memetakan Missouri bagian atas. 

Evans menghabiskan musim dingin tahun 1796-1797 dengan suku indian Mandan, tetapi tidak menemukan bukti adanya pengaruh Welsh. Pada bulan Juli 1797, dia menulis kepada Dr Samuel Jones, setelah menjelajahi dan memetakan Missurie sepanjang 1800 mil dan komunikasi dengan Indian disisi Samudera Pasifik 35-49 derajat Latitude, dia menyatakan bahwa tidak ada orang seperti 'Welsh Indian'. Pada tahun 1804, Lewis dan Clark juga menghabiskan waktu mengunjungi suku Mandan dimana mereka bertemu Sacagawea yang kemudian membantu mereka sebagai pemandu dan penerjemah. 

Suku Indian Mandan

Sebuah gua disisi selatan Sungai Cumberland, ditemukan ruang rahasia seluas 25 meter persegi dan menunjukkan tanda-tanda peralatan mesin karena berisi batu pemotong, serta kerangka raksasa berambut pirang besar. Dalam pemakaman lain puncak bukit di dekatnya, manik-manik gading yang diukir ditemukan dengan kualitas terbaik. Kemudian pada tahun 1833, artis barat George Catlin juga yakin adanya akar Eropa pada suku Mandan, kehidupan suku menggunakan cat mewarnai desa dan upacara keagamaan. 
Meskipun arkeolog tradisional menolak mentah warisan Eropa pada suku misterius ini, tidak ada yang pasti termasuk pengujian Haplogroup X yang pernah dilakukan pada salah satu anggota suku yang masih hidup dan test darah ilmiah, dan semua teori tentang asal-usul mereka murni berdasarkan Takhayul, pengujian akademis dan opini tidak ada yang benar.
Kerajaan Manusia Raksasa Kuno Penghasil Tembaga Terbesar Dunia

Rekonstruksi sejarah gundukan di Amerika, ditemukan tempat yang penting terletak di Danau Superior. Peristiwa vulkanik telah memutar batuan dasar bantalan tembaga ke atas garis air, sehingga memungkinkan semua sulfur menguap ke udara terbuka. Tembaga yang ditemukan di Isle Royal paling murni didunia. Seluruh wilayah yang terbuka ditemukan lubang tambang kuno dan parit panjangnya hingga 20 meter. 
Pengujian penanggalan karbon pada artefak tembaga menunjukkan bahwa artefak berusia 5700 tahun, sedangkan penggalian terbuka lainnya diseluruh wilayah jauh lebih tua berkisar 8000 hingga 10,000 tahun. Perkiraan paling konservatif selama periode 10,000 tahun, lebih dari 500,000 ton tembaga telah diambil dari tambang. 
Laporan temuan berjudul 'Prehistoric Copper Mining in the Lake Superior Region' yang diterbitkan pada tahun 1961, dimana Drier dan Du Temple diperkirakan lebih dari 1,5 miliar pon tembaga telah ditambang dari wilayah tersebut. Karena peneliti tradisional menolak untuk menganalisis tembaga, belum ada yang mampu menjelaskan untuk apa semua tembaga ini. Peneliti telah menentukan kegiatan penambangan terus menerus dimulai pada tahun 8000 SM dan kemudian berakhir sekitar tahun 1500 SM, waktu yang sama dengan ledakan gunung berapi Thera, Santorini (Crete). 
Batu bergambar kapal perdagangan Crete telah ditemukan didaerah penggalian, sebuah bukti koneksi antara Crete dan Amerika Utara sejak awal sejarah. Selain itu, peneliti membuktikan bahwa kegiatan penambangan tembaga dilanjutkan lagi sekitar tahun 900 M, sesuai dengan bukti terkait kehadiran Viking.
Arkeolog telah menemukan bukti kegiatan budaya maju dan pertambangan setidaknya 9000 SM di situs Oconto dan Osceola. Artefak tembaga termasuk tombak, panah-poin, pisau, adzes, gouges, tekstil dilengkapi manik-manik dan bahkan seruling tulang yang masih bisa dimainkan. Pada tahun 1794, juga dilaporkan bahwa sebuah tungku kuno ditemukan begitu pula sebatang besi, serta pengeras alat tembaga. Kemudian antara tahun 2002 dan 2010, sebuah dapur peleburan tembaga ditemukan dengan tempa dan metode untuk pengerasan tembaga, termasuk contoh pelat tembaga sangat canggih.

Tambang mika di North Carolina merupakan situs sumber daya alam yang paling signifikan di Amerika Utara. Di seluruh Amerika Serikat dan Meksiko, banyak ditemukan gundukan kuburan mengungkapkan perhiasan mika, ornamen dan dekorasi, sebagian besar yang dapat dihubungkan dengan tambang mika diperkirakan telah ada sejak zaman pra-sejarah kuno. Temuan lain termasuk contoh tembikar dan tembaga dari budaya Caddo meliputi Utara Texas, Oklahoma, Louisiana, dan Arkansas. Kemudian juga ditemukan papan tulis berukir ditemukan di Minnesota serta potongan tembaga identik dengan yang baru-baru ini ditemukan di Cahokia. 

Penggalian digundukan Chillicothe, artefak burung logam berlubang telah ditemukan, selain temuan pipa berukir juga ditemukan artefak bebek yang menaiki ikan. Di lokasi gundukan yang sama, puluhan kerangka yang ditemukan memakai masker tembaga. Situs itu juga terdapat fosil pada kedalaman 14 meter, kerangka besar ditemukan terbungkus dalam baju besi tembaga. Penggalian pada tahun 1889 di Southern Ohio, ditemukan fosil manusia raksasa terkubur dengan tulang macan, dan fosil lainnya terkubur dengan 147 tulang dan manik-manik kerang Conch dan Pyrula kerang yang mungkin diimpor dari Samudera Atlantik.

Pada tahun 1920-an, pulau Catalina yang dimiliki oleh Wrigley yang mempekerjakan Prof Ralph Glidden melakukan serangkaian penggalian di pulau dengan arahan Museum Catalina. Glidden dan timnya menemukan 3781 kerangka ras manusia raksasa berambut pirang. Yang tertinggi diyakini merupakan seorang raja dengan tinggi tubuh 9 kaki dan tinggi rata-rata kerangka lainnya sekitar 7 kaki. Selain itu juga ditemukan sisa-sisa kuil megalitik seperti Stonehenge. Uji penggalan radio karbon mengungkapkan beberapa kerangka yang digali berusia 7000 tahun. 
Berbagai penggalian resmi sebelumnya di situs tak tertutup telah ditemukan ratusan kerangka raksasa di alam terbuka. Sayangnya, semua bukti menghilang dari catatan sejarah. Selama lebih dari 50 tahun bukti yang berkaitan dengan penemuan tersebut dibantah keras oleh University of California dan Smithsonian, tetapi pada tahun 2011 akhirnya mengakui bahwa bukti penemuan tersebut telah dirahasiakan dan akses terbatas.
Referensi

The Ancient Giants Who Ruled America: The Missing Skeletons and the Great Smithsonian Cover-Up, by Richard Dewhurst, publish Desember 2013. 
The giants seize Freya by Arthur Rackham 1910, A pair of Mandan men in a print by Karl Bodmer 19th century, images courtesy of Wikimedia Commons.

Tuesday, August 26, 2014

Dua kota kuno Maya ditemukan di hutan Meksiko

Dua kota kuno Maya ditemukan di hutan Meksiko

Sabtu, 23 Agustus 2014 02:26 WIB
Dua kota kuno Maya ditemukan di hutan Meksiko
Dokumentasi (REUTERS/FUNAI)
 
Mexico City (ANTARA News) - Para arkeolog telah menemukan dua kota kuno suku Indian Maya yang tersembunyi di hutan Meksiko tenggara.  Penemuan ini membuar para peneliti yakin ada beberapa kota kuno lainnya ditemukan di kawasan ini.

Ivan Sprajc, profesor pada Pusat Riset Akademi Ilmu dan Seni Slovenia mengatakan bahwa timnya menemukan kota kuno Lagunita dan Tamchen di Semenanjung Yucatan April lalu dengan mempelajari foto-foto udara di kawasan itu.

Sprajc mengatakan kedua kota tua itu mencapai puncak kejayaannya pada era Klasik Terakhir dan Ujung (600-1000 Masehi). Pada setiap situs, para peneliti menemukan bangunan-bangunan seperti istana, piramida-piramida dan plaza-plaza.

Salah satu dari piramid itu bertinggi hampir 20 meter.

Mereka juga menemukan fasad atau gerbang yang berbentuk pintu masuk seperti mulut raksasa yang kemungkinan besar sebagai salah satu pintu masuk utama ke pusat kota. Foto-foto dari kedua situs menunjukkan bahwa piramida batu menonjol keluar dari bawah dedaunan nan lebat.

"Pintu masuk itu tampaknya menyimbolkan pintu masuk ke sebuah gua dan ke dunia bawah tanah. Orang masuk melalui pintu ini akan memasuki pelataran-pelataran suci," kata dia kepada Reuters via telepon dari Slovenia.

Sprajc mengatakan timnya memetakan 10-12 hektare pada setiap situs, namun kemungkina besar kedua kota itu lebih luas. "Kami telah mengelaborasi sebuah peta tetapi hanya pusat keagamaan dan administrasi kedua kota itu," kata dia. "Ini tampak seperti pusat kota."

Timnya belum mengekskavasi kedua situs tersebut.

"Ada lusinan situs yang sudah saya lihat dari foto-foto udara itu," sambung dia seraya menegaskan bahwa penemuan tambahan akan tergantung pada pendanaan lebih jauh.

Musim panas lalu, Sprajc menemukan situs kota kuno suku Maya lainnya, Chactun, 10 km arah utara Lagunita dan 6 km arah (4 miles) arah barat laut Tamchen, demikian Reuters.


Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © 2014

Sumber:
http://www.antaranews.com/berita/449824/dua-kota-kuno-maya-ditemukan-di-hutan-meksiko



Kota Kuno Ditemukan Tersembunyi di Hutan Meksiko

Tempat mirip gedung, piramid setinggi 20 meter, dan alun-alun.

ddd
Senin, 25 Agustus 2014, 12:32
Ilustrasi
Ilustrasi (Reuters)
Follow us on
VIVAnews - Arkeolog menemukan dua kota kuno yang dipercaya pernah ditinggali oleh suku maya. Kota kuno itu tersembunyi di dalam hutan di Meksiko bagian tenggara.

Dilansir melalui Reuters, Senin 25 Agustus 2014, penemuan ini hanyalah tahap awal. Para peneliti percaya jika hutan itu masih menyembunyikan belasan kota kuno lainnya.

"Kota-kota itu ditemukan dengan cara memeriksa fotografi udara wilayah itu sejak April lalu. Kota kuno ini ditemukan di wilayah Lagunita dan Tamchen, terletak di semenanjung Yucatan," ujar Ivan Sprajc, asisten profesor di Research Center of Slovenian Academy of Science and Art.

Menurut Sprajc, setidaknya ada dua kota yang ditinggali suku maya pada periode klasik, atau sekitar tahun 600 atau 1000 setelah Masehi. Di setiap situs itu ditemukan tempat mirip gedung, piramid dan alun-alun. Salah satu piramid diketahui memiliki tinggi sekitar 20 meter.

Para peneliti itu juga menemukan bagian depan bangunan yang berwujud seperti mulut monster berukuran besar. Mereka yakin jika ini merupakan pintu gerbang untuk masuk ke kota tersebut.

Foto-foto yang menunjukkan pemandangan situs itu memperlihatkan adanya batu piramida yang menjorok keluar sehingga terlihat keluar dari tumpukan dedaunan.

"Pintu masuk ini sepertinya merupakan simbol untuk memasuki gua atau dunia bawah tanah. Seseorang yang masuk melalui pintu ini sepertinya harus melakukan ritual tertentu," ujar Sprajc.

Sprajc dan tim arkeolog lainnya telah memetakan sekitar 10 sampai 12 hektare dalam setiap situs. Kota itu kemungkinan cukup besar.

"Kami mengelaborasi peta namun hanya bagian pusat keagamaan dan administratif dari dua situs yang telah ditemukan ini," ujar Sparjc yang mengaku belum melakukan penggalian lebih dalam di situs ini.

Menurutnya, ada banyak situs yang ditemukan jika berdasarkan tangkapan fotografi udara. Sehingga dirinya tidak bisa berspekulasi karena informasi tambahan lainnya akan sangat bergantung pada temuan berikutnya.

Sebelumnya, Sprajc juga telah menemukan kota kuno Maya lainnya. Salah satunya Chactun yang terletak 10 kilometer dari Utara Lagunita.


© VIVA.co.id 
 
http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/531845-kota-kuno-ditemukan-tersembunyi-di-hutan-meksiko 

Friday, May 2, 2014

Kota Suku Indian Guatemala


Kota Suku Indian Guatemala

Kamis, 17 Februari 2011 - 11:03 wib | Pasha Ernowo - Okezone

(foto: thelivingmoon.com) (foto: thelivingmoon.com) Jika menyebut Piramida biasanya setiap orang pasti merujuk ke negara Mesir. Akan tetapi, tahukah Anda ternyata ada juga piramida yang berada di Amerika, tepatnya di Guatemala.

Bangunan ini tempat tinggal dan pemujaan sebagian Suku Indian. Berwisata ke Amerika Tengah cukup mengasyikkan. Pilihannya yang bisa dicoba adalah Guatemala. Selain wisata keliling ibu kota negara ini Guatemala City.

Jika kebetulan anda mengunjungi tempat ini pada hari minggu, di sebuah alun-alun yang cukup luas, dan sisi kanan kiri menjulang bangunan kuno yang antik, serta gereja tua yang indah. Pemandu menjelaskan, pada hari minggu ada semacam ”pasar kaget”, di mana banyak orang dari pedalaman pergi ke kota untuk menjajakan barang dagangannya, yang berupa hasil bumi atau kerajinan, di samping mereka pergi ke gereja.

Kios-kios kaki lima ramai berdiri. Warung-warung makan dipadati pengunjung. Penjaja kerajinan seperti kain-kain khas Indian berjajar. Tukang obat ramai menawarkan obatnya dengan suara speaker yang nyaring dan diselingi sulapan ringan. Anak-anak penyemir sepatu, menawarkan jasanya ke setiap pengunjung. Dan tak ketinggalan juru potret amatiran menawarkan jasanya untuk mengambil gambar pengunjung dengan menggunakan kamera instan yang langsung jadi.

Dengan profesional, pemandu menjelaskan keberangkatan menuju taman nasional. Ada beberapa peraturan yang boleh dan tidak boleh, selama berada dalam taman. Dan pemandu berhenti membelakangi sebuah pohon. Mulai ceritera tentang pohon Ceiba, yang menjadi ”pohon nasional”-nya Negeri Guatemala. Ceritera panjang lebar tentang sejarah pohon itu, kegunaan dan sangat bermanfaat bagi Suku Indian.

Kompleks bangunan Candi atau piramida ini memang tidak mengelompok, tapi membuat semacam lapisan. Lapisan pertama untuk penjagaan, tempat tinggal hulubalang kepala suku, tempat tinggal kepala suku, tempat untuk bermusyawarah dan tempat untuk pemujaan dewa. Diperkirakan ada lebih 3.000 bangunan, termasuk beberapa ”candi” yang tinggi menjulang di atas kanopi hutan yang megah. Kompleks bangunan ini diperkirakan dibangun 1.500 tahun yang lalu dan ditempati lebih dari 100.000 Suku Indian Maya.

Ada sebuah tempat lapang yang sangat luas, yang menjadi pusat dari kompleks candi ini. Di ujung barat menjulang candi yang cukup tinggi. Di bagian bawah ada batu-batu tempat musyawarah kepala suku beserta istri dan penasihatnya. Sisi yang berhadapan terdapat bangunan yang menjulang tinggi tempat peribadatan, serta sisi kanan dari bangunan utama beberapa bangunan untuk rakyat yang menanti pertemuan atau upacara.

Seperti halnya bangunan peninggalan sejarah, candi dan piramida juga dimakan usia. Penggalian-penggalian yang dilakukan oleh ahli purbakala, dilakukan sejak awal abad ke-19, saat mereka memulai eksplorasi ke Amerika Tengah. Penggalian bukit-bukit kecil yang ditumbuhi pepohonan yang di bawahnya merupakan bangunan candi dan piramida dilakukan. Sedikit demi sedikit, bangunan demi bangunan di renovasi. Hingga saat ini hasil dapat dilihat dan dinikmati wisatawan baik dalam atau luar negeri.

Beberapa bangunan utama, hingga saat ini masih direnovasi, karena candi yang berbentuk piramida ini mengalami pengikisan oleh air hujan. Berbeda dengan Candi Borobudur atau Prambanan atau candi lain di Jawa yang terbuat dari batu hitam dan keras. Candi-candi orang Indian ini terbuat dari batu kapur atau cadas yang tidak sekokoh candi di Indonesia. Namun ada banyak bangunan yang sudah hancur dan ditumbuhi pohon yang menjulang tinggi yang belum tertangani.

Untuk mencapai pucak bangunan yang tertinggi yang sudah dapat didaki, memerlukan tenaga ekstra, karena harus menaiki anak tangga. Ada juga tangga buatan dari kayu untuk bisa sampai ke puncak tertinggi dari bangunan lain. Setelah sampai di puncak, barulah bisa melihat semua hutan dan kompleks bangunan lain di dalam hutan ini.

Pengelolaan yang terpadu peninggalan arkeologi ini yang berada dalam kawasan hutan, membuat Taman Nasional Tikal menjadikan kawasan dan telah dideklarasikan sebagai Peninggalan Kebudayaan dan Kehidupan Alam untuk umat manusia modern saat ini. Untuk itu kawasan ini oleh Unesco ditetapkan sebagai World Heritage Site. Areal kawasan ini meliputi Taman Nasional Tikal seluas 57.600 Ha, Hutan alam San Miguel 49.500 ha dan Cagar Biosfeer Maya seluas satu juta hektare. Semua cagar ini menempati lebih kurang 10 % dari total luas Negeri Guatemala.

Selain wisata budaya yang disuguhkan di Taman Nasional Tikal, kawasan ini juga menyuguhkan wisata minat khusus. Berbagai satwa mudah dijumpai seperti, howler monkey dan spider monkey. Berbagai jenis burung yang berwarna warni mudah ditemukan sepanjang jalan menuju candi dan piramida. Seperti burung betet atau macaw, parkit, taucan dan berbagai jenis burung lainnya yang diperkirtakan ada sekitar 333 jenis. Selain itu beberapa jenis kadal atau sebangsa iguana juga banyak dijumpai, dan menjadikan daya tarik bagi wisatawan minat khusus, selain menikmati megahnya peninggalan Suku Indian Maya juga melihat kekayaan alam yang terjaga. (uky)

Sumber:
http://travel.okezone.com/read/2011/02/17/409/425643/kota-suku-indian-guatemala

Kiamat Batal, Piramida Suku Maya Malah Rusak Gara-gara Turis

Kiamat Batal, Piramida Suku Maya Malah Rusak Gara-gara Turis

Desi Puspasari - detikTravel - Rabu, 26/12/2012 12:25 WIB
 
Tikal - Ramalan Kiamat Suku Maya, sudah terbukti tidak terjadi. Namun, masalah belum selesai. Akibat banyaknya wisatawan yang datang ke Tikal di Guatemala, piramida Suku Maya yang ada di daerah tersebut malah rusak. Duh!

Menurut kalendar Maya, hari Jumat kemarin menjadi akhir dari masa yang berlangsung sejak 5200 tahun lalu. Beberapa orang juga mempercayai ramalan dari aksara hieroglif Maya, kalau tanggal tersebut juga menjadi kiamat seluruh kehidupan dunia.

Alhasil, lebih dari 7.000 wisatawan datang ke Temple II. Piramida ini merupakan situs kuno peninggalan Suku Maya di Tikal, Guatemala. Piramida ini merupakan situs arkeologi terbesar dan menjadi pusat dari peradaban Suku Maya pada masanya.

"Sayangnya, banyak wisatawan yang naik ke Temple II dan menyebabkan kerusakan. kata penasihat teknik di situs arkeologi Tikal, Osvaldo Gomez, seperti yang detikTravel longok dari News Australia, Rabu (26/12/2012).

Temple II, mmempunyai ketinggian sekitar 38 meter dan menghadap ke pusat Tikal. Bangunan ini pun menjadi salah satu situs terkenal dengan struktur bangunan terbaik. Pada tahun 1979, UNESCO menyatakan Tikal sebagai Situs Warisan Dunia.

"Kami tidak masalah dengan perayaan ini. Tapi para wisatawan seharusnya lebih hati-hati karena ini adalah Situs Warisan Dunia UNESCO," tambah Gomez.

Turis datang ke Tikal Jumat lalu untuk melihat para pendeta Maya mengadakan upacara. Upacara ini penuh warna dan saat matahari muncul mereka menyalakan api untuk menandai dimulainya era baru.

Gomez tidak menyebutkan secara detil apa yang dilakukan para turis di situs yang terletak sekitar 550 km, sebelah utara Guatemala City ini. Namun, ia mengatakan menaiki tangga piramida ini menjadi salah satu larangan dan menunjukkan kalau kerusakan yang terjadi dapat diperbaiki.

Para kritikus mengeluhkan, peristiwa ini benar-benar hanya untuk wisatawan dan tak ada hubungannya dengan Suku Maya. Sekitar 42 persen dari 14,3 juta penduduk asli Maya di Guatemala, justru hidup dalam kemiskinan dan penderitaan karena diskriminasi.

Upacara yang dilakukan penduduk Suku Maya di Temple II (news.com.au/AFP Photo/Hector Retamal)
Sumber:
http://travel.detik.com/read/2012/12/26/122559/2126825/1382/kiamat-batal-piramida-suku-maya-malah-rusak-gara-gara-turis

Guatemala; Nikmati Sejarah dan Kota Suku Indian

Guatemala; Nikmati Sejarah dan Kota Suku Indian


Kata piramida identik dengan Negeri Mesir yang memiliki beberapa bangunan megah yang dijadikan untuk menyimpan mayat para Raja Mesir zaman dahulu. Tapi piramida yang ada di Guatemala, Amerika Tengah, berbeda. Bangunan ini tempat tinggal dan pemujaan sebagian Suku Indian.

Berwisata ke Amerika Tengah cukup mengasyikkan. Pilihannya yang bisa dicoba adalah Guatemala. Selain wisata keliling ibu kota negara ini Guatemala City, kita dapat mengunjungi beberapa obyek wisata menarik: piramida. Bangunan ini menjadi tempat tinggal dan pemujaan sebagian suku Indian.
Jika kebetulan anda mengunjungi tempat ini pada hari minggu, di sebuah alun-alun yang cukup luas, dan sisi kanan kiri menjulang bangunan kuno yang antik, serta gereja tua yang indah. Pemandu menjelaskan, pada hari minggu ada semacam ”pasar kaget”, di mana banyak orang dari pedalaman pergi ke kota untuk menjajakan barang dagangannya, yang berupa hasil bumi atau kerajinan, di samping mereka pergi ke gereja.

Kios-kios kaki lima ramai berdiri. Warung-warung makan dipadati pengunjung. Penjaja kerajinan seperti kain-kain khas Indian berjajar. Tukang obat ramai menawarkan obatnya dengan suara speaker yang nyaring dan diselingi sulapan ringan. Anak-anak penyemir sepatu, menawarkan jasanya ke setiap pengunjung. Dan tak ketinggalan juru potret amatiran menawarkan jasanya untuk mengambil gambar pengunjung dengan menggunakan kamera instan yang langsung jadi.

Dengan profesional, pemandu menjelaskan keberangkatan menuju taman nasional. Ada beberapa peraturan yang boleh dan tidak boleh, selama berada dalam taman. Dan  pemandu berhenti membelakangi sebuah pohon. Mulai ceritera tentang pohon Ceiba, yang menjadi ”pohon nasional”-nya Negeri Guatemala. Ceritera panjang lebar tentang sejarah pohon itu, kegunaan dan sangat bermanfaat bagi Suku Indian.

Kompleks bangunan Candi atau piramida ini memang tidak mengelompok, tapi membuat semacam lapisan. Lapisan pertama untuk penjagaan, tempat tinggal hulubalang kepala suku, tempat tinggal kepala suku, tempat untuk bermusyawarah dan tempat untuk pemujaan dewa. Diperkirakan ada lebih 3.000 bangunan, termasuk beberapa ”candi” yang tinggi menjulang di atas kanopi hutan yang megah. Kompleks bangunan ini diperkirakan dibangun 1.500 tahun yang lalu dan ditempati lebih dari 100.000 Suku Indian Maya.

Ada sebuah tempat lapang yang sangat luas, yang menjadi pusat dari kompleks candi ini. Di ujung barat menjulang candi yang cukup tinggi. Di bagian bawah ada batu-batu tempat musyawarah kepala suku beserta istri dan penasihatnya. Sisi yang berhadapan terdapat bangunan yang menjulang tinggi tempat peribadatan, serta sisi kanan dari bangunan utama beberapa bangunan untuk rakyat yang menanti pertemuan atau upacara.

Seperti halnya bangunan peninggalan sejarah, candi dan piramida juga dimakan usia. Penggalian-penggalian yang dilakukan oleh ahli purbakala, dilakukan sejak awal abad ke-19, saat mereka memulai eksplorasi ke Amerika Tengah. Penggalian bukit-bukit kecil yang ditumbuhi pepohonan yang di bawahnya merupakan bangunan candi dan piramida dilakukan. Sedikit demi sedikit, bangunan demi bangunan di renovasi. Hingga saat ini hasil dapat dilihat dan dinikmati wisatawan baik dalam atau luar negeri.

Beberapa bangunan utama, hingga saat ini masih direnovasi, karena candi yang berbentuk piramida ini mengalami pengikisan oleh air hujan. Berbeda dengan Candi Borobudur atau Prambanan atau candi lain di Jawa yang terbuat dari batu hitam dan keras. Candi-candi orang Indian ini terbuat dari batu kapur atau cadas yang tidak sekokoh candi di Indonesia. Namun ada banyak bangunan yang sudah hancur dan ditumbuhi pohon yang menjulang tinggi yang belum tertangani.

Untuk mencapai pucak bangunan yang tertinggi yang sudah dapat didaki, memerlukan tenaga ekstra, karena harus menaiki anak tangga. Ada juga tangga buatan dari kayu untuk busa sampai ke puncak tertinggi dari bangunan lain. Setelah sampai di puncak, barulah busa melihat semua hutan dan kompleks bangunan lain di dalam hutan ini.

Pengelolaan yang terpadu peninggalan arkeologi ini yang berada dalam kawasan hutan, membuat Taman Nasional Tikal menjadikan kawasan dan telah dideklarasikan sebagai Peninggalan Kebudayaan dan Kehidupan Alam untuk umat manusia modern saat ini. Untuk itu kawasan ini oleh Unesco ditetapkan sebagai World Heritage Site. Areal kawasan ini meliputi Taman Nasional Tikal seluas 57.600 Ha, Hutan alam San Miguel 49.500 ha dan Cagar Biosfeer Maya seluas satu juta hektare. Semua cagar ini menempati lebih kurang 10 % dari total luas Negeri Guatemala.

Selain wisata budaya yang disuguhkan di Taman Nasional Tikal, kawasan ini juga menyuguhkan wisata minat khusus. Berbagai satwa mudah dijumpai seperti, howler monkey dan spider monkey. Berbagai jenis burung yang berwarna warni mudah ditemukan sepanjang jalan menuju candi dan piramida. Seperti burung betet atau macaw, parkit, taucan dan berbagai jenis burung lainnya yang diperkirtakan ada sekitar 333 jenis. Selain itu beberapa jenis kadal atau sebangsa iguana juga banyak dijumpai, dan menjadikan daya tarik bagi wisatawan minat khusus, selain menikmati megahnya peninggalan Suku Indian Maya juga melihat kekayaan alam yang terjaga. (rn)


Sumber:
http://www.resep.web.id/traveling/guatemala-nikmati-sejarah-dan-kota-suku-indian.htm

100 Tahun Diabaikan, Misteri Piramida Guatemala Mulai Terkuak

100 Tahun Diabaikan, Misteri Piramida Guatemala Mulai Terkuak
Sabtu, 10 Agustus 2013 , 00:41:00 WIB

Laporan: Ade Mulyana


OCH CHAN YOPAAT/NET
  

RMOL. Ditemukan pada 1911, baru bulan lalu arkeolog menemukan pesan yang tersembunyi di balik pahatan-pahatan dinding piramida Holmul di Guatemala. Piramida ini merupakan bagian dari peradaban Maya kuno yang berkembang antara abad ke-9 SM hingga abad ke-9 M di Amerika Tengah.

Salah satu kalimat yang ditemukan berbunyi: "Dewa Badai Memasuki Langit."

Menurut arkeolog dari Universitas Tulane dan Universitas Boston, Francisco Estrada-Belli, kalimat itu adalah terjemahan dari Och Chan Yopaat, nama salah seorang penguasa Maya kuno. Di salah satu dinding piramida itu sang Och Chan Yopaat atau Dewa Badai terlihat duduk dengan kaki bersila. Diduga berasal dari tahun 590 M, pahatan itu memberikan petunjuk penting mengenai pergeseran kekuasaan di saat kelompok-kelompok suku Maya bertarung dengan sesama mereka di masa itu.

Estrada-Belli yang memimpin penelitian adalah seorang putra Guatemala yang besar di Italia. Ketertarikannya pada peninggalan peradaban Maya muncul ketika ia mengunjungi Tikal, situs arkeologi utama peradaban Maya, pada usia 7 tahun. Sejak saat itu ia tergila-gila pada peradaban Maya dan melahap buku-buku arkeologi.

Tahun 2000 setelah menggondol gelar doktor, Estrada-Belli membuka sebuah kasus arkeologi tua yang sudah lama tak diungkit-ungkit para peneliti. Peninggalan Holmul yang ditelitinya ditemukan arkeolog dari Universitas Harvard, Raymond Merwin, pada 1911. Tetapi sejak saat itu pula peninggalan tersebut diabaikan dan tak pernah disentuh para peneliti.

Dengan bantuan National Geographic Society, Estrada-Belli memulai eskavasi di situs Holmul.

Tahun lalu ia dan tim yang dipimpinnya menemukan sebuah kuburan dengan tulang belulang lelaki dewasa di dalamnya. Gigi yang ditemukan di dalam kuburan mengandung giok. Selain tulang belulang juga ditemukan 32 keramik yang kemungkinan merupakan petunjuk siginifikan mengenai status mayat yang dikuburkan di dalamnya di dalam masyarakat. Mungkin sekali ia adalah pemimpin masyarakat di masa hidupnya.

Estrada-Belli juga telah mendirikan Inisiatif Arkeologi Maya untuk melindungi situs Holmul dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Lembaga ini juga memastikan bahwa semua peninggalan di piramida itu aman dan tersedia untuk penelitian berikutnya di masa yang akan datang. [dem]


Sumber:
http://www.rmol.co/read/2013/08/10/121399/100-Tahun-Diabaikan,-Misteri-Piramida-Guatemala-Mulai-Terkuak-

Misteri Piramida Guatemala Mulai Terkuak

, ,

Misteri Piramida Guatemala Mulai Terkuak


piramida holmulDitemukan pada 1911, baru bulan lalu arkeolog menemukan pesan yang tersembunyi di balik pahatan-pahatan dinding piramida Holmul di Guatemala. Piramida ini merupakan bagian dari peradaban Maya kuno yang berkembang antara abad ke-9 SM hingga abad ke-9 M di Amerika Tengah.


Salah satu kalimat yang ditemukan berbunyi: “Dewa Badai Memasuki Langit.”
Menurut arkeolog dari Universitas Tulane dan Universitas Boston, Francisco Estrada-Belli, kalimat itu adalah terjemahan dari Och Chan Yopaat, nama salah seorang penguasa Maya kuno. Di salah satu dinding piramida itu sang Och Chan Yopaat atau Dewa Badai terlihat duduk dengan kaki bersila. Diduga berasal dari tahun 590 M, pahatan itu memberikan petunjuk penting mengenai pergeseran kekuasaan di saat kelompok-kelompok suku Maya bertarung dengan sesama mereka di masa itu.
Estrada-Belli yang memimpin penelitian adalah seorang putra Guatemala yang besar di Italia. Ketertarikannya pada peninggalan peradaban Maya muncul ketika ia mengunjungi Tikal, situs arkeologi utama peradaban Maya, pada usia 7 tahun. Sejak saat itu ia tergila-gila pada peradaban Maya dan melahap buku-buku arkeologi.

Tahun 2000 setelah menggondol gelar doktor, Estrada-Belli membuka sebuah kasus arkeologi tua yang sudah lama tak diungkit-ungkit para peneliti. Peninggalan Holmul yang ditelitinya ditemukan arkeolog dari Universitas Harvard, Raymond Merwin, pada 1911. Tetapi sejak saat itu pula peninggalan tersebut diabaikan dan tak pernah disentuh para peneliti.
Dengan bantuan National Geographic Society, Estrada-Belli memulai eskavasi di situs Holmul.

Tahun lalu ia dan tim yang dipimpinnya menemukan sebuah kuburan dengan tulang belulang lelaki dewasa di dalamnya. Gigi yang ditemukan di dalam kuburan mengandung giok. Selain tulang belulang juga ditemukan 32 keramik yang kemungkinan merupakan petunjuk siginifikan mengenai status mayat yang dikuburkan di dalamnya di dalam masyarakat. Mungkin sekali ia adalah pemimpin masyarakat di masa hidupnya.

Estrada-Belli juga telah mendirikan Inisiatif Arkeologi Maya untuk melindungi situs Holmul dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Lembaga ini juga memastikan bahwa semua peninggalan di piramida itu aman dan tersedia untuk penelitian berikutnya di masa yang akan datang. [dem]


Sumber:
Disalin dari » Misteri Piramida Guatemala Mulai Terkuak http://posmetrobatam.com/2013/08/misteri-piramida-guatemala-mulai-terkuak/#ixzz30dAKV4oY