Tuesday, June 14, 2016

DARI ASIA DARATAN HINGGA DI TANAH KARO: Sebuah Penelusuran Para Ahli Genetika

DARI ASIA DARATAN HINGGA DI TANAH KARO
Sebuah Penelusuran Para Ahli Genetika

Oleh: Edward Simanungkalit

Sumber: www.forgottenmotherland.com


                Setelah sekian lama menunggu tulisan tentang Karo berdasarkan genetika dan belum muncul-muncul juga, maka akhirnya penulis memutuskan untuk menulis artikel ini. Berdasarkan Y-DNA Haplogroups dari populasi Karo, maka dapatlah ditelusuri mengenai asal-usulnya. Karo Y-DNA Haplogroups terdiri dari: C-RPS4Y*= 19,05%, R-M173= 19,05%, O-M95* = 19:05%, dan O-M119= 42,85%. Seperti itulah Y-DNA Haplogroups dari populasi Karo.
          C-RPS4Y* merupakan subclade dari Y-DNA C, tetapi masih masih memakai tanda (*) yang artinya masih memerlukan penelitian untuk memperjelasnya lebih jauh. Paragroup C ditemukan dalam populasi kuno di setiap benua kecuali Afrika dan dominan  Y-DNA Haplogroup di antara banyak laki-laki milik  masyarakat asli di Asia Tengah/Siberia, Amerika Utara dan Oseania. Paragroup C ini tidak langsung lagi berasal dari Afrika, tetapi muncul di luar Afrika setelah bermutasi  pada sekitar 60.000 tahun lalu. Kemudian C-RPS4Y* banyak ditemui di Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan suku Aborigin Australia, tetapi Karafet et al. (2010) mengemukakan bahwa C-RPS4Y* ditemukan juga di Indonesia (termasuk bagian Barat) dan Asia Tenggara. Dengan demikian, kemungkinannya C-RPS4Y* bermigrasi ke Tanah Karo adalah dari Asia Daratan.
O-M95* diasosiakan sebagai penutur Austroasiatik. Jean A. Trejaut et al. (2014) mengemukakan bahwa O-M95* bermigrasi dari Indochina ke Indonesia Barat. O-M95* bermigrasi melalui Semenanjung Malaka terus ke Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. O-M95* ditemukan juga pada Karo Y-DNA Haplogroups.O-M95* ini diperkirakan lebih dulu bermigrasi sebelum ekspansi Austronesia di sekitar 4.000 – 6.000 tahun lalu. O-M95* bermigrasi  masuk melalui pantai timur Sumatera.
Melihat pada beberapa ekskavasi arkeologi atas bukit-bukit kerang yang dilakukan di sepanjang pesisir Timur mulai dari sekitar Medan hingga Lhokseumawe, maka terbukti jelas bahwa para pendukung budaya Hoabinh sudah datang ke sana. Berdasarkan fosil berusia 7.400 tahun lalu (belakangan ditemukan lagi fosil berusia 8.430 tahun lalu) yang dicocokkan DNAnya dengan orang-orang Gayo oleh Eijkman Institute, maka terbukti bahwa Gayo adalah keturunan dari pendukung budaya Hoabinh tersebut, sedang Gayo dengan Karo berkerabat sangat dekat secara genetik. Para pendukung budaya Hoabinh ini datang dari Teluk Tonkin, Vietnam dan kalau melihat kepada daerah asal Hoabinhian ini, maka ada sementara pihak yang menghubungkannya dengan bahasa Austroasiatik dan mereka menduga ada kaitannya dengan O-M95*. Meskipun demikian, terhadap dugaan ini tetap harus dilakukan pembuktian. Hoabinhian adalah kebudayaan yang berkembang di Vietnam Utara, dekat Teluk Tonkin pada sekitar 10.000 – 2.000 SM. Di dekat daerah itu juga berkembang kebudayaan Dongson pada sekitar 5.000 – 2.000 SM (Wikipedia).
          O-M119 sering ditemukan pada populasi berbahasa Austronesia yang kemudian mendominasi bahasa Karo menjadi termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia. Karafet et al. (2010) dalam papernya mengemukakan bahwa ekspansi Austronesia telah berlangsung pada periode sekitar 4.000 – 6.000 tahun lalu. “Akan tetapi”, seperti disampaikan oleh Gludhug A. Purnomo dari Eijkman Institute (02/03-2016), “terdapat hipotesis bahwa beberapa sub clades dari Haplogroup O (O-M119 dan O-M122) diduga berasosiasi dengan Ekspansi Austronesia pada masa Plestocene.”  Populasi O-M119 yang berbahasa Austronesia ini datang dari Asia Daratan dan masuk dari pantai timur Sumatera.
          R-M173 paling kuat berasal dari Asia Selatan, menurut Soares (2010). Dari sejarahnya, bahwa penutur Dravida dari India, Asia Selatan memang banyak datang ke Tanah Karo terutama pada millennium kedua masehi. Mereka ini masuk melalui pantai timur Sumatera.

       Lian Deng et al. (2015)/ Sumber: www.nature.com

          Akhirnya, populasi C-RPS4Y*, populasi O-M95*, populasi O-M119, dan populasi R-M173 datang ke Tanah Karo dari pantai timur Sumatera dengan masing-masing rombongan dalam waktu berbeda-beda yang didahului C-RPS4Y*. Di Tanah Karo, keempat populasi ini kemudian bercampur membentuk sebuah populasi besar dengan KARO Y-DNA Haplogroups seperti yang dikemukakan di awal dan mereka inilah yang sekarang menjadi populasi Karo. Jadi, pada dasarnya Etnis Karo itu terbentuk sendiri. (*)











































Sumber: httpblogs.discovermagazine.com


REFERENSI & L I N K:

Tatiana M. Karafet et al. (2010) – klik

Tatiana M. Karafet et al. (2014) - klik
Jean A. Trejaut et al. (2014) - klik

Haplogroup C (Y-DNA) – klik - klik

Haplogroup C (Y-DNA) - Distribution



Haplogroup R (Y-DNA)

Haplogroup R1

HAPLOGROUP R-M173



(*) Pemerhati Sejarah Alternatif Peradaban

Tuesday, May 31, 2016

DARI SUNDALAND HINGGA DI NEGERI TOBA: Sebuah Penelusuran Para Ahli Genetika


DARI SUNDALAND HINGGA DI NEGERI TOBA
Sebuah Penelusuran Para Ahli Genetika
Oleh: Edward Simanungkalit *


Sumber: forgottenmotherland.com

Sundaland dalam Ilmu Pengetahuan Modern

Setelah Gunung Toba meletus 74.000 tahun lalu yang memusnahkan hampir semua manusia dan bekasnya menjadi Danau Toba, maka terjadi kembali migrasi manusia dari Afrika ke Sundaland di sekitar 70.000 tahun lalu. Mereka bermigrasi menyusuri pesisir pantai melalui India Selatan sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Stephen Oppenheimer dari Oxford University, Inggris, yang dikenal menulis buku: “Eden in The East: The Drowned Continent of Southeast Asia” (1999). Dia menulis buku ini setelah memimpin proyek besar yang dipercayakan HUGO (Human Genome Organizatioan) melakukan pemetaan DNA manusia sedunia (Kompas, 20/10-2011). Kemudian 90 orang lebih ilmuwan Asia dari konsorsium Pan-Asian SNP di bawah naungan Human Genome Organization (HUGO) memetakan jalur migrasi manusia ini sebagai satu-satunya jalur migrasi ke Sundaland secara lebih tegas. Para ilmuwan ini telah melakukan studi terhadap 73 populasi Asia Tenggara dan Asia Timur, yang selain berhasil memetakan jalur migrasi tadi, mereka menyimpulkan bahwa akar genetik manusia berhubungan sangat erat antara kelompok etnik dan kelompok bahasa (Detik, 11/12-2009; Kompas, 14/12-2009 & 12/12-2011). Migrasi dari Afrika yang tejadi ini sebagian melewati Sundaland hingga sampai ke Papua dan Australia, yang sekarang disebut Aborigin di Australia. Migrasi dari Afrika ini sesuai dengan teori “Out of Africa” yang terkenal itu.

Sejak 20.000 tahun lalu, menjelang tenggelamnya Sundaland, terjadi banyak letusan gunung berapi, gempa bumi, dan banjir, sehingga membuat para penghuni Sundaland berhamburan ke Asia Daratan, yang disebut sebagai peristiwa “Out of Sundaland”. Dengan demikian, selama 50.000 tahun sudah banyak manusia mendiami Sundaland, sehingga Stephen Oppenheimer tiba pada kesimpulan bahwa Sundaland merupakan induk peradaban dunia (Kompas, 27/10-2010). Di sisi lain, Prof. Arysio Nunes dos Santos, Ph.D. dalam bukunya: “Atlantis The Lost Continent Finally Found” (2005), malah menguraikan sebuah teori yang menempatkan secara definitif bahwa Atlantis berada di wilayah Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Brunei (Wikipedia). Kemudian terkait dengan keterlibatannya dalam penelitian atas situs megalitik Gunung Padang di Cianjur, geolog Dr. Danny Hilman (2013), menulis dan meluncurkan bukunya dalam acara seminar: “PLATO TIDAK BOHONG: Atlantis Ada di Indonesia”. Lebih jauh lagi, Dhani Irwanto, dalam bukunya: “Atlantis: The Lost City is in Java Sea” (2015), menyampaikan sebuah hipotesis baru bahwa Atlantis ada di Laut Jawa, dekat Pulau Bawean, yaitu di antara pulau Bawean dengan daratan Kalimantan. Semuanya ini menyebabkan Indonesia menjadi perhatian para ilmuwan dunia sekarang ini dengan sebuah pertanyaan: “Apakah yang mereka kerjakan selama 50.000 tahun di Sundaland?”. Stephen Oppenheimer dan Arysio Nunes dos Santos telah berjasa mempromosikan Indonesia ke seluruh dunia melalui buku yang mereka tulis.

Sundaland akhinya tenggelam sekitar 8.000 tahun lalu di mana air laut naik permukaannya hingga memasuki daratan rendah Sundaland tersebut. Sehingga, tinggallah Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, yang merupakan daratan tertinggi dari Sundaland tersebut dan menjadi terpisah dari Semenanjung Malaka. Demikianlah bekas kawasan Sundaland yang sekarang dikenal dengan Semanjung Malaka, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan pulau-pulau kecil lain di sekitarnya.

Y-DNA Haplogroups dari Populasi Toba

Sebagaimana dikemukakan oleh Tatiana M. Karafet (Karafet et al. 2010), dari Universitas Arizona – Amerika Serikat, bahwa TOBA Y-DNA Haplogroup terdiri dari: K-M526*= 13,51%, O-M95*=13.51%, O-M201*= 56,76%, O-M110= 10,81%, O-P203= 2,7%, dan R-M214= 2,7% (http://www.anthrogenica.com/showthread.php?2573-New-DNA-Papers-General-Discussion Thread/page49).

Kemudian lebih lengkap lagi mengenai Y-DNA Toba ini digambarkan seperti di bawah ini:

Sumber: forgottenmotherland.com

Populasi Sundaland Tatiana M. Karafet et al. (2010) menjelaskan sebelumnya bahwa K-M526*ditemukan di Sumatera dan Sulawesi. K-M526* ditemukan pada Toba dan Mandar. Karena ada ditemukan pada populasi etnis Toba, sehingga perlu juga hal ini dibicarakan secara khusus. Phylogeny tree yang disusun berdasarkan penelitian Tatiana M. Karafet et al. (2014), dalam papernya: “Improved phylogenetic resolution and rapid diversification of Y-chromosome haplogroup K-M526 in Southeast Asia”, membantu memberikan penjelasan tentang K-M526* yang berawal dari K2. Terkait dengan Toba Y-DNA Haplogroups di atas, maka lebih jauh perlu juga melihat Phylogenetic Tree berdasarkan Karafet et al., (2014) sebagai berikut:

Sumber: forgottenmotherland.com

Karafet et al. (2014) menjelaskan bahwa struktur filogenetik dari haplogroup K-M526* sekarang dibagi dalam 4 subclade utama (K2a-d). Adapun yang terbesar ialah K2b, yang dibagi menjadi dua kelompok: K2b1 dan K2b2. K2b1 menggabungkan haplogroup sebelumnya yang dikenal sebagai haplogroup M, S, K-P60 dan K-P79. Sedang K2b2 terdiri dari haplogroup P dan sub-haplogroup Q dan R, yang mayoritas membentuk garis keturunan ayah/pria (paternal) di Eropa, Eurasia dan Amerika. Dan, merupakan satu-satunya subclade K2b yang berada di luar geografi Sundaland dan Oseania. Itu sebabnya, disimpulkan bahwa haplogroup P, yang merupakan leluhur bangsa Eropa, bermigrasi dari Sundaland seperti dikemukakan sebelumnya oleh Stephen Oppenheimer. Sementara itu, K2-M526*ditemukan pada populasi Sumatra & Sulawesi, dan jika perpisahan ini terjadi 50.000 tahun yang lalu, maka lokasi paling ideal adalah di antara keduanya, yaitu Sundaland. Berdasarkan mtDNA populasi Etnis Toba dengan macrohaplogroup M yang sebanding dengan frekuensi K-M526*, maka diperkirakan K-M526* berasal dari populasi Sundaland.

Sumber: geneticdisorders.info

Y-DNA dari Populasi Toba
Pada Phylogenetic Tree tadi jelas bahwa K-M526* muncul di Sundaland sekitar 50.000 tahun lalu. Haplogroup K menurunkan K1 dan K2, sedang K2 ini juga dikenal sebagai K-M526*. Adapun K-M526* ini merupakan salah satu Toba Y-DNA Haplogroups seperti telah dikemukakan di atas. K2 memiliki subclade utama: K2a, K2b, K2c, dan K2d. Sedang K2a menurunkan NO dan kemudian NO menurunkan O-M175. Adapun O-M175 menurunkan O-M122, O-M119, dan O-M95*, yang menurut Karafet et al. (2010) berasal dari Asia Daratan pada masa Pleistosen. O-M122 menurunkan O-P201*dan O-M119 menurunkan O-M110 dan O-P203. Selanjutnya, K2b2 menurunkan R2 (termasuk R-M124) dan R1 (R1a dan R1b).

K-M526* ada pada sebagian populasi di Indonesia. Di Indonesia Timur dan Tengah, frekwensi K-M526* ini lebih besar persentasenya. Di Sumatera, frekwensi K-M526* relatif lebih kecil persentasenya seperti yang ditemukan pada populasi Aceh, Toba, dan Riau. K-M526* ini diperkirakan lebih awal masuk ke Negeri Toba, tetapi belum ada penelitian lebih mendalam lagi soal K-M526* yang ada pada populasi Toba, sehingga masih diberikan tanda (*). K-M526* di Indonesia Barat ini belum dapat dipastikan darimana datangnya. Bisa saja mereka datang dari daerah Timur di seberang garis Wallace, karena situasi dan kondisi yang dinamis menjelang tenggelamnya Sundaland tidak terlalu berpengaruh di daerah tersebut (lihat gambar di atas). Yang jelas, bahwa K-M526* muncul dan berasal dari Sundaland dan K-M526* ini ditemukan dalam Y-DNA Toba di Negeri Toba, yang merupakan kawasan bekas Sundaland dulu.

Pada gambar Toba Y-DNA Haplogroups di atas tampak bahwa O-P201*O-P203O-M95*, dan O-M110, kesemuanya sebesar 83,79%. O-P203 diasosiasikan Austronesia, sedang O-M95 diasosiasikan Austroasiatik, dan O-M110 diasosiasikan Tai Kadai. Khusus O-P201* sering diasosiasikan dengan populasi Sino-Tibetan, Hmong-Mien, atau Han Chinese. Adapun K-M526*: 13,51% ini muncul di Sundaland. R-M124: 2,7% diasosiakan Dravida dari India, Asia Selatan.

Jean A. Trejaut et al. (2014) mengemukakan bahwa O-M95* bermigrasi dari Indochina ke Indonesia Barat. O-M95* bermigrasi melalui Semenanjung Malaka terus ke Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. O-M95* ditemukan juga pada Toba Y-DNA Haplogroups. O-M95* ini diperkirakan lebih dulu bermigrasi sebelum ekspansi Austronesia di sekitar 4.000 - 6.000 tahun lalu, tetapi jarak waktunya tidak jauh antara O-M95* dengan ekspansi Austronesia. Mungkin O-M95* inilah yang ditemukan jejak aktivitasnya berupa pembukaan hutan kecil-kecilan pada sekitar 6.500 tahun lalu di Humbang, dari Silaban Rura hingga Siborong-borong, berdasarkan penelitian paleontologi yang dilakukan Bernard K. Maloney (1979). Permasalahan dari penggunaan data-data fisik seperti ini bisa saja terjadi bahwa mungkin ada di tempat lain seperti di Toba Holbung, Samosir, dan Silindung, tetapi belum ditemukan atau sudah hilang akibat proses alam.

Ekspansi Austronesia, menurut Karafet et al. (2010), antara lain terdiri dari: O-P203O-M110, dan O-P201*. Karafet et al. (2010) menyebutkan bahwa O-P201* ditemukan berbahasa Austronesia pada populasi Toba dan O-M110 juga berbahasa Austronesia pada populasi Toba. O-M110 ini ada juga pada populasi Nias dan Mentawai yang mana mereka berbahasa Austronesia. Kelihatannya O-M110bermigrasi dari Asia Daratan ke Taiwan dan kemudian dari Taiwan kembali bermigrasi ke Indonesia Barat dalam ekspansi Austronesia termasuk ke Nias dan Mentawai. Mengenai O-P203, Karafet et al. (2010) menjelaskan, bahwa O-P203 ini ditemukan pada mayoritas suku Taiwan Asli yang tentunya berbahasa Austronesia. Jadi, ketiganya termasuk dalam ekspansi Austronesia ke Indonesia Barat, yang mana O-P201* dari Asia Daratan sementara O-P203 dan O-M110 keluar dari Taiwan dalam ekspansi Austronesia tersebut. Ekspansi Austronesia ke Indonesia Barat ini berlangsung pada periode 4.000-6.000 tahun lalu (Karafet et al. 2010).

Sebagaimana telah dikemukakan tadi bahwa O-P201* masuk ke dalam ekspansi Austronesia keluar dari Asia Daratan, maka penelitian Jean A. Trejaut et al. (2014) menguatkan bahwa O-P201* memang keluar dari Asia Daratan. O-P201* berasal dari sekitar Yunnan dan Teluk Tonkin. Dengan demikian, teori Out of Taiwan tidak sepenuhnya diterima secara genetik, karena ekspansi Austronesia tidak semuanya keluar dari Taiwan, tetapi ada juga dari Asia Tenggara Daratan (MSEA) ke Indonesia melalui semenanjung Indocina. Dengan melihat asal dari O-P201* ini, maka terlihat bahwa O-P201* ada kemungkinan bersinggungan dengan budaya Dong Son, yang berkembang pada abad ke-5 hingga abad ke-2 SM (Sebelum Masehi) di lembah Song Hong berdekatan dengan Teluk Tonkin, Vietnam. Hal ini mengingat bahwa populasi Toba didominasi budaya Dong Son.  Sedang R-M124 berasal dari dari India, Asia Selatan yang datang sejak millenum pertama masehi.

Akhirnya, K-M526* muncul di Sundaland setelah berevolusi. Kemudian keturunannya bermigrasi ke luar Sundaland (lihat gambar di atas) yang menurunkan O-M175, R, dan lain-lainnya. O-M175 menurunkan O-M95*O-M110O-P201O-P203, dan lain-lain. R menurunkan R-M124, dan lain-lain. Dengan demikian, maka O-M95*, O-M110O-P201O-P203, dan R-M124 memiliki hubungan paternal dengan K-M526* yang kesemuanya ada pada Y-DNA Toba. Keenam populasi ini datang dengan masing-masing rombongan ke Negeri Toba dan semuanya bercampur hingga membentuk populasi Toba seperti sekarang ini sesuai dengan apa yang diperlihatkan pada Y-DNA-nya. (*)



Tatiana M. Karafet et al. (2010) – klik

Tatiana M. Karafet et al. (2014) - klik
Jean A. Trejaut et al. (2014) - klik

Y-DNA Macro-haplogroup K-M526 originated in Indonesia (2014) - klik

Dr. Danny Hilman (2013) - klik 

Dhani Irwanto (2015) - klik 

Haplogroup R (Y-DNA) - klik 

Haplogroup R-M124 - klik


* Pemerhati Sejarah Alternatif Peradaban












Tuesday, April 26, 2016

MENELISIK POPULASI ETNIS TOBA DENGAN GENETIKA


MENELISIK POPULASI ETNIS TOBA DENGAN GENETIKA
Oleh: Edward Simanungkalit *

        Etnis Toba merupakan etnis tersendiri yang berbeda dengan tetangga di sekitarnya seperti Pakpak, Karo, Simalungun, dan Mandailing, yang berada di sekitar Danau Toba. Para pakar biologi molekuler telah banyak melakukan studi sehubungan dengan populasi etnis Toba ini. Beberapa jurnal dapat ditemukan di berbagai website universitas dan lembaga sains di dunia ini, sehingga etnis Toba bukanlah populasi yang tersembunyi dan asing. Itulah sebabnya penulis membuat tulisan berhubungan dengan masalah genetika ini.

The HUGO Pan-Asian SNP Consortium (2009)
       Dimulai dari hasil penelitian DNA yang dipetakan dalam  Mapping Human Genetic Diversity in Asia, The HUGO Pan-Asian SNP Consortium (2009) berikut: 
The HUGO Pan-Asian Consortium, 2009 (Sumber: www.lahistoriaconmapas.com)
HUGO adalah singkatan dari Human Genome Organization dan merupakan organisasi genom sedunia. Y-DNA Toba terlihat jelas didominasi oleh unsur Austronesia pada urutan pertama dan unsur Austroasiatik pada urutan kedua. Kedua unsur ini saja sudah mencapai sekitar 80%, kemudian selebihnya disusul oleh Dravidian, Indo-European, Papuan, Sino-Tibetan, dan Hmong-Mien. Penutur Austronesia, Austroasiatik, Sino-Tibetan, dan Hmong-Mien merupakan ras Mongoloid semuanya.

Tatiana M. Karafet dan kawan-kawan (2010)
          Disebutkan, bahwa menurut Tatiana M. Karafet (Karafet et al. 2010), dari Universitas Arizona – Amerika Serikat, dikemukakan mengenai populasi etnis Toba sbb.: K2*-M526 13,2%, O3a2-P201, O1a*-M110, O1a1-P203, O2a1*-M95 (O-M175 84,2%), R2a-M124 2,6% (http://www.anthrogenica.com/showthread.php?2573-New-DNA-Papers-General-Discussion Thread/page49).
Kemudian  lebih lengkap lagi  mengenai Y-DNA Toba ini digambarkan seperti di bawah ini:


Sumber: www.forgottenmotherland.com

Pada gambar tampak bahwa O-P201*, O-P203, O-M95*, dan O-M110 yang kesemuanya sebesar 83,79%. Oleh karena jumlahnya dominan, maka dapat disimpulkan bahwa Y-DNA Orang Toba termasuk Haplogroup O yang merupakan ras Mongoloid. O-P203 adalah Austronesia, sedang O-M95 adalah Austroasiatik, dan O-M110 adalah Tai Kadai. Khusus O-P201* sering diasosiasikan dengan populasi Sino-Tibetan, Hmong-Mien, atau Han Chinese. Adapun K-M526*: 13,52% ini merupakan Y-DNA Negrito.  R-M124: 2,7% berasal dari India Selatan. Tatiana M. Karafet (et al. 2010) dalam papernya: Taiwan Y-chromosomal DNA variation and its relationship with Island Southeast Asia” menyampaikan: “Judging from the presence of Y-DNA haplogroup R2a-M124, this population probably has experienced some South Asian influence.” Karafet et al., 2010 jelas menyatakan adanya pengaruh Asia Selatan pada etnis Toba meskipun hanya dalam frekwensi yang relative kecil.

Mark Lipson dan kawan-kawan (2014)
Senada dengan penelitian Tatiana M. Karafet (et al. 2010) tadi, maka Mark Lipson et al.  (2014), dari MIT – Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat, dalam jurnalnya: "New  statistical  genetic methods for”, melakukan analisa terhadap Y-DNA Toba dan lain-lain untuk menelusuri asal-usulnya sebagai berikut:
Mark Lipson et al.  (2014): http://www.nature.com/ncomms/2014/140819/ncomms5689/fig_tab/ncomms5689_F2.html

Mark Lipson et al. (2014), yang pengelompokannya berdasarkan rumpun bahasa, menjelaskan bahwa  garis besar komposisi Y-DNA Toba: Austronesia, Austroasiatik, dan Negrito. Mereka bermigrasi dan memasuki pulau Sumatera dari pantai Timur. Penutur Austroasiatik yang sampai ke Sumatera adalah keturunan suku H’Tin dari Thailand kemudian bercampur dengan penutur Austronesia di Asia Daratan. Baru campurannya bermigrasi ke Asia Tenggara bagian Barat dan mereka berbahasa Austronesia (Lipson, 2014:85-86).

Lian Deng dan kawan-kawan (2015)
Lian Deng et al. (2015), dalam papernya: “Dissecting the genetic structure and admixture of four geographical Malay populations” melakukan analisa DNA lagi dengan menggunakan teknologi yang lebih maju seperti Mark Lipson et al. (2014) di atas. Adapun hasil penelitian mereka yang dilakukan tahun 2015 lalu dapat dilihat hasilnya sebagai berikut:

 Lian Deng et al. (2015): http://www.nature.com/articles/srep14375/figures/3

Berdasarkan hasil penelitian Lian Deng et al. (2015) di atas tampak lebih jelas gambaran Y-DNA Toba dengan kode ID-TB yang terdiri dari: Oceanian, East Asian, Southeast Asian 1, Southeast Asian 2, Negrito, South Asian, Central Asian, European, dan African. Di sini Lian Deng et al. (2015) terlihat membagi DNA tersebut berdasarkan wilayah geografis. Dari gambar di atas terlihat bahwa Y-DNA Toba dominan dari Asia terutama ras Mongoloid.

Menyingkap DNA Toba Lebih Jauh
            Y-DNA Toba dapat dibagi ke dalam 3 macam ras sesuai dengan periode migrasi yang terjadi ke Negeri Toba/Toba Na Sae, yaitu: (1) K-M526*; (2) O-P201*, O-P203, O-M95*, dan O-M110; (3) R-M124.

(1)        K-M526*
          Tatiana M. Karafet et al. (2010) menjelaskan sebelumnya bahwa K-M526* ditemukan di Sumatera dan Sulawesi. K-M526* ditemukan pada Etnis Toba dan Suku Mandar. Tatiana M. Karafet et al. (2014) menjelaskan bahwa struktur filogenetik dari haplogroup K-M526* sekarang dibagi dalam 4 subclade utama (K2a-d). Adapun yang terbesar ialah K2b, yang dibagi menjadi dua kelompok: K2b1 dan K2b2. K2b1 menggabungkan haplogroup sebelumnya yang dikenal sebagai haplogroup M, S, K-P60 dan K-P79, sedang K2b2 terdiri dari haplogroup P dan sub-haplogroup yang Q dan R, yang  mayoritas membentuk garis keturunan ayah/pria (paternal) di Eropa, Eurasia dan Amerika, dan merupakan satu-satunya subclade K2b yang berada di luar geografi Asia Tenggara/Sundaland dan Oseania. Itu sebabnya, disimpulkan bahwa haplogroup P, yang merupakan leluhur bangsa Eropa, bermigrasi dari Sundaland sebagaimana pernah dikemukakan sebelumnya oleh Stephen Oppenheimer dalam bukunya “Eden in The East”. Sementara itu K2-M526* ditemukan pada populasi Sumatra & Sulawesi, dan jika perpisahan ini terjadi 50.000 tahun yang lalu, maka lokasi paling ideal adalah di antara keduanya, yaitu Sundaland. Berdasarkan mtDNA populasi etnis Toba dengan macrohaplogroup M yang sebanding dengan fekwensi K-M526*, maka diperkirakan K-M526* berasal dari populasi Sundaland.

(2) O-P201*, O-P203, O-M95*, dan O-M110
O-P201*, O-P203, O-M95*, dan O-M110, kesemuanya merupakan ras Mongoloid. O-P203 adalah Austronesia. O-M95* adalah Austroasiatik dan O-M110 adalah Tai-Kadai. Khusus O-P201* berasal dari Yunnan dan di Toba berbahasa Austronesia. Melalui Phylogeny tree berdasarkan Karafet et al. (2014) di atas tadi dapat terlihat O-P203, O-M95*, dan O-M110 yang berasal dari turunan K2a. K2a menurunkan NO dan NO menurunkan O-M175. Kemudian O-M175 adalah yang menurunkan Austronesia, Austroasiatik, Tai-Kadai, Sino Tibetan, dan Hmong-Mien, yang kesemuanya adalah ras Mongoloid, sehingga ras Mongoloid ini berasal dari Sundaland juga. O-M95* masuknya ke Indonesia bagian barat lebih awal berupa gelombang pra-Austronesia dari Asia Tenggara (Karafet et al. 2010 merujuk kepada Kumar et al. 2007)“Hasil perhitungan jarak genetik menggunakan STR yang berasosiasi dengan P-201 menunjukan bahwa hubungann genetik yang sangat dekat antara aborigin Taiwan dan Filipina; Indonesia Barat, Indonesia Timur dan Oceania dibandingkan dengan Asia Tenggara. Hasil ini memberikan indikasi haplogroup ini diasosiasikan dengan Ekspansi Austronesia bersama dengan Haplogroup O-M110 dan O-P203 yang menyebar dari arah utara menuju ke barat dan timur Garis Wallacea.” (Karafet et al, 2010, dalam papernya: “Major East–West Division Underlies Y Chromosome Stratification across Indonesia”).

(3) R-M124
R-M124 ini, atau lengkapnya R2a-M124, dijelaskan sebagai berikut: “Menurut Project Genographic yang dilakukan oleh National Geographic Society, sebuah organisasi yang didanai oleh keluarga Rothschild, Haplogroup R-M124 muncul sekitar 25.000 tahun yang lalu di Asia Tengah dan anggotanya bermigrasi ke selatan sebagai bagian dari gelombang besar kedua migrasi manusia ke India.” Sengupta et al. (2006) menemukan bahwa R2a-M124 tersebut pada penutur Dravidian dan India lainnya (http://www.gutenberg.us/articles/haplogroup_r-m124). 

Etnis Toba di Negeri Toba/Toba Na Sae dan Si Raja Batak
            Pada awalnya, sebagai populasi yang jauh lebih tua dari Sundaland, maka Negeri Toba/Toba Na Sae (Tapanuli Utara Lama) sudah lebih dulu berdiam K-M526*. Seperti dikemukakan di atas bahwa Y-DNA Toba sebagian besar terdiri dari: O-P201*, O-P203O-M95*, dan O-M110 sebesar 83,79% yang merupakan ras Mongoloid. Dari pantai Timur, mereka sebagian masuk ke Negeri Toba/Toba Na Sae  dan bertemu dengan K-M526* di sana, sehingga terjadilah percampuran. Menurut hasil penelitian Jean A Trejaut et al. (2014) dalam laporannya Taiwan Y-chromosomal DNA variation and its relationship with Island Southeast Asia”, bahwa penutur Austronesia ada yang datang dari Taiwan dan ada juga dari Asia Daratan, sehingga mereka datang secara bergelombang dari  waktu yang berbeda-beda. Mereka ini kemudian menggunakan bahasa Toba setelah bahasa Toba terbentuk, yang termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia. Belakangan datang lagi R-M124 dan terjadilah percampuran, sehingga seperti yang dikemukakan oleh Tatiana M. Karafet et al. (2010), maka keseluruhannya Y-DNA Haplogroups Etnis Toba terdiri dari: K-M526*, O-P201, O-P203, O-M95*, O-M110, dan R-M124 seperti yang terlihat pada gambar.
          Masing-masing marka atau Y-DNA Haplogroup yang membentuk etnis Toba ini adalah merupakan populasi, sehingga bukan hanya satu orang manusia saja. K-M526* merupakan populasi Negrito sudah lebih awal berdiam di Negeri Toba/Toba Na Sae. O-M110 merupakan populasi dari penutur bahasa Austronesia. O-M203 merupakan populasi dari penutur bahasa Austronesia juga. O-M95* merupakan populasi dari penutur bahasa Austroasiatik. O-M201*merupakan populasi dari penutur bahasa Austronesia juga. Sedang R-M124 merupakan populasi  dari penutur bahasa Dravida. Kelima populasi tadi adalah populasi pembentuk populasi etnis Toba, yang jumlahnya tentu banyak atau tidak satu orang. Melihat kepada keenam populasi tadi yang terdiri dari banyak orang dari tiap-tiap populasi tersebut, maka jelas bahwa sesunggungnya banyak orang yang datang berombongan-berombongan ke Toba Na Sae. Mereka terdiri dari 3 (tiga) macam ras, yaitu: Negrito, Mongoloid, dan India Selatan dan mereka datang dari masing-masing daerah dengan 4 (empat) macam bahasa dan pada akhirnya didominasi bahasa Toba, yang termasuk rumpun bahasa Austronesia. ***


(*) Pemerhati Sejarah Alternatif Peradaban