Wednesday, October 1, 2014

Asal Usul Mitos Segitiga Bermuda, Dari UFO Hingga 'Rumah Iblis'

Asal Usul Mitos Segitiga Bermuda, Dari UFO Hingga 'Rumah Iblis'

 12 Apr 2013 00:01

segitiga-bermuda130411c.jpg
Sejumlah kapal dan pesawat dilaporkan hilang tanpa jejak selama berabad-abad di sebuah area segitiga raksasa yang menghubungkan Bermuda, Florida, dan Puerto Rico: Segitiga Bermuda.

Christopher Columbus, di masa awal penjelajahannya ke Dunia Baru pada 1492, adalah yang pertama mencatat soal anomali di sekitar segitiga imajiner itu.

Saat kapal-kapal armadanya, "Nina", "Pinta", dan "Santa Maria" melintas Laut Sargasso, penjelajah Italia itu mengaku kompasnya menjadi tak menentu. Ia juga melihat cahaya aneh di cakrawala pada 11 Oktober 1492, yang hingga kini belum bisa dijelaskan.

Namun, asal-usul legenda Segitiga Bermuda bisa dilacak 16 September 1950, saat wartawan kantor berita  Associated Press,  E. V. W. Jones mencatat apa yang ia deskripsikan sebagai serangkaian kejadian "misterius" hilangnya sejumlah kapal dan pesawat antara perairan Florida dan Bermuda di akhir tahun 1940-an.

Ia menyebut sejumlah kejadian, dari hilangnya Penerbangan 19 Angkatan Laut AS, misi latihan 5 bomber torpedo TBM Avenger yang terbang dari Florida pada 5 Desember 1945, juga hilangnya pesawat komersial "Star Tiger" pada 30 Januari 1948 dalam penerbangan dari Azores ke Bermuda. Tak ketinggalan "Star Ariel"yang raib 17 Januari 1949 dalam penerbangan dari Bermuda ke Kingston, Jamaica.

"'Laut iblis' telah menjebak nasib 135 orang yang terbang atau berlayar di Atlantik dalam beberapa tahun belakangan," tulis Jones seperti dimuat Bernews.com. "Manusia modern dengan keajaiban mesin tak punya kata kunci untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka yang lenyap, tanpa jejak bersama kapal atau pesawatnya."

Bumbu Fiksi

Dua tahun kemudian giliran artikel di majalah "Fate" muncul. Penulisnya, George X Sand menceritakan sejumlah insiden misterius hilangnya sejumlah kapal di wilayah tersebut. Penulis, M. K. Jessup juga menyajikan kisah serupa dalam artikel "The Case for The UFO", dirilis tahun 1955 -- yang mengarahkan keterlibatan alien.

Kisah serupa kembali diulang Donald E. Keyhoe dalam "The Flying Saucer Conspiracy" [1955), juga Frank Edwards dalam tulisannya, "Stranger Than Science" [1959].

Hingga akhirnya muncullah Vincent H. Gaddis yang memperkenalkan istilah "Segitiga Bermuda" dalam artikel yang terbit Februari 1964 di Majalah "Argosy", yang berjudul  "The Deadly Bermuda Triangle" -- Segitiga Bermuda yang mematikan.

"Selama dua dekade terakhir, laut misterius di halaman belakang kita telah merenggut hampir 1.000 nyawa," tulis Gaddis. "Angkatan Laut AS, Angkatan Udara dan penyelidik Penjaga mengakui bahwa mereka bingung. Beberapa petunjuk yang ada hanya menambah kemisteriusannya."

Disusul tulisan Ivan T. Sanderson, "Invisible Residents" [1970] yang menyebut spekulasi bahwa Segitiga Bermuda adalah bukti adanya peradaban bawah laut yang cerdas dan berteknologi tinggi yang bertanggung jawab atas berbagai fenomena misterius. Makin banyak buku soal itu yang ditulis, dipakai inspirasi sejumlah film.  Spekulasi pun makin liar.

Tulisan yang relatif masuk akal baru terbut pada 1975 oleh Larry Kusche, pustakawan Arizona State University. Ia membongkar mitos yang ia sebut sebagai "misteri yang diproduksi" dalam buku "The Bermuda Triangle Mystery-Solved".

Ia menggali bukti arsip seperti rekaman data cuaca, laporan resmi penyelidik, laporan media masa, dan dokumen lain -- fakta yang kerap diabaikan oleh para penulis sebelumnya.

Fakta Ilmiah

'Misteri' Segitiga Bermuda' sekian lama menyandera imaji manusia, bahkan hingga saat ini. Sejumlah orang mencari dan mempertanyakannya ke sumber yang tepat dan terpercaya. Salah satunya, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

Seperti dimuat dalam situsnya, NASA membantah spekulasi ada kaitan Segitiga Bermuda dan lubang hitam 'black holes'.

"Tidak ada lubang hitam di Segitiga Bermuda. Pada kenyataannya, bahkan tak  ada yang namanya Segitiga Bermuda. Banyaknya kasus kehilangan di wilayah itu konsisten dengan yang terjadi wilayah lainnya," demikian jelas Ilmuwan NASA, Dr Eric Christian

Astrobiologis dan ilmuwan senior NASA, David Morrison juga meminta orang-orang penasaran untuk menkaji secara nyata dan fakta. "Bukan fantasi."

Lembaga pemerintah Amerika Serikat, National Oceanic and Atmospheric  Administration (NOAA) yang mengurus persoalan lingkungan, di antaranya badai dan tsunami, juga pernah menjelaskan tentang Segitiga Bermuda.

Sekaligus membantah sejumlah spekulasi yang berseliweran. "Seperti mahluk ekstraterresterial yang menculik manusia untuk dijadikan kelinci percobaan, pengaruh Atlantis Yang Hilang, pusaran yang menyedot benda ke dimensi lain, dan ide-ide lain yang tak kalah anehnya." Termasuk, soal rumah iblis atau keberadaan piramida di sana.

NOAA menyebut, beberapa dugaan didasarkan pada sains, meski tanpa didasari bukti. Namun yang jelas, "Angkatan Laut AS (US Navy) dan penjaga pantai (US Coast Guard) berpendapat bahwa tidak ada penjelasan supranatural untuk berbagai bencana di laut. Pengalaman mereka menunjukkan, kombinasi dari alam dan kesalahan manusia, mengalahkan penjelasan fiksi ilmiah paling terpercaya sekali pun."

Lembaga itu menambahkan, laut sejatinya selalu menjadi tempat misterius untuk manusia. Saat cuaca buruk terjadi dan adanya kesalahan manusia, ia bisa menjadi tempat yang sangat mematikan. Ini adalah kenyataan yang terjadi di seluruh dunia.

"Tak ada bukti bahwa kehilangan misterius terjadi dengan frekuensi lebih besar di Segitiga Bermuda dibanding lokasi lain di lautan dunia," NOAA menyimpulkan. (Ein)

Credit: Ein


Sumber:  
 http://news.liputan6.com/read/559322/asal-usul-mitos-segitiga-bermuda-dari-ufo-hingga-rumah-iblis

 

Ada Kutukan "Segitiga Bermuda" di Laut Karibia?

Ada Kutukan "Segitiga Bermuda" di Laut Karibia?

 08 Jan 2013 

bermuda130108b.jpg
Pesawat yang membawa jutawan fashion Italia, Vittorio Missoni dan lima orang lainnya hilang saat melintasi Laut Karibia. Penyebabnya masih misterius, ada yang menduga itu akibat kegagalan mesin, hingga diduga mereka diculik oleh para penyelundup obat-obatan terlarang.

Di tengah ketidakjelasan itu, muncul teori baru: pesawat beserta seluruh penumpangnya menjadi korban dari "Kutukan Los Roques", fenomena yang dikait-kaitkan dengan Segitiga Bermuda. Demikian dilaporkan media Inggris, The Guardian, seperti dilansir situs sains LiveScience (8/1/ 2013).

Pesawat nahas itu diketahui terbang 140 kilometer dari sebuah resor di kepulauan Los Roques ke Caracas, Venezuela, Jumat lalu, saat ia kemudian dinyatakan hilang. Posisinya saat lenyap ada di lautan terbuka.

Ini bukan kali pertamanya pesawat hilang di kawasan tersebut. Setidaknya 15 pesawat lain dilaporkan mengalami kondisi gawat, jatuh, atau menghilang sejak tahun 1990-an.

Pada 2008 lalu, misalnya, 14 orang dinyatakan tewas ketika pesawat yang mereka tumpangi menghilang saat menempuh rute yang sama dari Los Roques. Tak ada serpihan pesawat yang pernah ditemukan, dan hanya satu jasad yang berhasil dievakuasi. Demikian ungkap VolarenVenezuela, situs penerbangan sipil di Venezuela.

Sejumlah orang mengklaim, musibah itu adalah akibat dari gas metan dalam jumlah luar biasa yang dilepaskan dari dasar laut. Lainnya menawarkan teori aneh, tanpa dasar, bahwa penyebabnya mungkin alien dari luar angkasa yang bersembunyi di balik ombak. Bahkan ada yang menyebut, jiwa-jiwa dari peradaban Atlantis yang hilang ditelan ombak, ikut andil dalam musibah itu.

Mitos Segitiga Bermuda

Mungkin tak ada lokasi di dunia yang semisterius Segitiga Bermuda. Ia adalah wilayah laut di dalam garis imajiner yang menghubungkan tiga wilayah yaitu Bermuda, San Juan - Puerto Rico, dan Miami di Amerika Serikat.

Ada yang menyebutnya 'Segitiga Setan'atau 'Devil Triangle', 'Limbo the Lost', 'Twilight Zone', dan yang paling tenar adalah sebutan 'Segitiga Bermuda' -- terinspirasi dari artikel Vincent Gaddis di Majalah Argosy.

Sepanjang sejarah banyak pesawat dan kapal yang hilang misterius di lokasi tersebut. Penyebabnya, tak jelas. Spekulasi pun beredar: dugaa lubang hitam 'black hole', atau alien yang bersembunyi di bawah lautan, portal ke dimensi lain, gas methan, lokasi Atlantis yang hilang, hingga rumah iblis, Dajjal.

Namun, kemisteriusan Segitiga Bermuda ditepis secara ilmiah. Salah satunya dari Lembaga pemerintah Amerika Serikat, National Oceanic and Atmospheric  Administration (NOAA). 

"Angkatan Laut AS (US Navy) dan penjaga pantai (US Coast Guard) berpendapat bahwa tidak ada penjelasan supernatural untuk berbagai bencana di laut. Pengalaman mereka menunjukkan, kombinasi dari alam dan kesalahan manusia, mengalahkan penjelasan fiksi ilmiah paling terpercaya sekali pun."

Dua lembaga AS penguasa laut, US Navy dan US Coast Guard, juga menambahkan, tak ada peta resmi yang menyebut sebuah lokasi bernama Segitiga Bermuda. Badan Geografi AS (US Board of Geographic) juga tidak mengakui Segitiga Bermuda sebagai nama resmi.

Selain Segitiga Bermuda, ada sejumlah wilayah yang disebut punya "kutukan" serupa. Ada Segitiga Michigan di Danau Michiga tempat hilangnya sejumlah awak kapal dan pesawat. Juga di Laut Sargasso -- di mana sejumlah kapal ditemukan berlayar mengarungi laut tenang Sargasso tanpa awak satu pun.

Ada lagi Laut Iblis (Devil's Sea), yang dijuluki Segitiga Bermuda Pasifik di sekitar Pulau Miyake, selatan Tokyo. Legenda kuno menyebut, ada naga yang hidup di perairan sana -- yang membuatnya punya nama lain, "Segitiga Naga". (Ein)

Credit: Ein


Sumber
http://news.liputan6.com/read/482508/ada-kutukan-segitiga-bermuda-di-laut-karibia 

Pernyataan Resmi AS: `Segitiga Bermuda` Mitos Belaka

Pernyataan Resmi AS: `Segitiga Bermuda` Mitos Belaka

  • 10 Feb 2014 13:22

segitiga-bermuda-140210b.jpg
Seiring berlalunya waktu, keangkeran kawasan dalam wilayah imajiner yang menghubungkan Bermuda, Florida, dan Puerto Rico, memudar. Dan kini resmi dinyatakan: Segitiga Bermuda adalah mitos.

Selama beberapa dekade, Segitiga Bermuda identik dengan wilayah 'terkutuk', lokasi hilangnya banyak pesawat dan kapal -- beserta manusia yang ada di dalamnya. Perairan itu dikaitkan dengan banyak spekulasi dari markas alien, black hole atau lubang hitam yang menyedot benda dan membawanya ke dimensi lain, piramida misterius, wilayah Atlantis Yang Hilang, sampai rumah iblis.

Kini, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), badan ilmiah di bawah Departemen Perdagangan AS kembali meluruskan segala anggapan itu. NOAA menegaskan, faktor cuaca dan buruknya navigasi menjadi segala penyebab hilangnya banyak alat transportasi di Segitiga Bermuda.

"Tidak ada bukti bahwa kehilangan misterius yang terjadi di Segitiga Bermuda terjadi dengan frekuensi yang lebih besar dibandingkan wilayah laut lainnya," demikian pernyataan lembaga itu dalam situsnya bukan ini, seperti dimuat Daily Mail, 9 Februari 2014.

Ben Sherman, juru bicara Layanan Kelautan Nasional NOAA kepada Sun Sentinel mengatakan, lembaganya menulis kisah Segitiga Bermuda sebagai bagian dari program pembelajaran masyarakat dan menjawab pertanyaan dari para pembaca situs.

NOAA juga berpegangan pada bukti ilmiah dari Angkatan Laut AS atau US Navy dan US Coast Guard yang tak mengakui eksistensi Segitiga Bermuda, sebagai wilayah geografis yang memiliki ancaman khusus untuk kapal atau pesawat.

"Berdasarkan kajian, kecelakaan pesawat dan kapal di daerah tersebut selama bertahun-tahun, tidak ditemukan bukti yang mengindikasikan bahwa itu disebabkan apa pun selain penyebab fisik."

Namun, tak semua setuju dengan NOAA atau alasan badan pemerintah AS lainnya. Salah satunya, Minerva Bloom, relawan dari Naval Air Station Fort Lauderdale Museum -- pangkalan Penerbangan 19 (Flight 19) di mana 5 pesawat pembom torpedo yang lepas landas dari Fort Lauderdale untuk latihan pada Desember 1945. Mereka tak pernah kembali.



"Mungkin bukan alien atau yang berkaitan dengan itu. Namun, menurutku, ada sesuatu yang tak buasa di sana," kata dia, seperti Liputan6.com kutip dari Sun Sentinel.

Ini salah satu alasannya: suatu hari di awal tahun 1990-an, Minerva dan keluarganya terbang dengan pesawat milik maskapai Chalk's International Airlines dari Bahama ke Fort Lauderdale.

"Pilot saat itu berkata, 'Kita akan terbang di atas Segitiga Bermuda'. Tiba-tiba,  sekrup jatuh dari panelnya," kata Minerva. "Pilot itu berkata, 'itu sudah pernah terjadi sebelumnya, tak perlu khawatir'. Tapi kami merasa ngeri."

Pertanyaan soal Segitiga Bermuda juga pernah ditujukan ke Badan Survei Geologi AS (USGS). Meski mengakui keberadaan gas hidrat di sedimen dalam laut di tenggara AS atau wilayah barat Segitiga Bermuda, dan bahwa gas bisa berkaitan dengan fenomena tenggelamnya kapal, geolog USGS, Bill Dillon membantah hipotesa itu sebagai penyebab tenggelamnya kapal di Segitiga Bermuda.

Sebab, pelepasan gas hidrat hanya terjadi di akhir zaman es, sekitar 15.000 tahun lalu atau lebih. Di mana saat itu kapal yang paling maju yang mungkin bisa dibuat manusia saat itu, tak lebih dari kayu berongga. Apalagi, terbukti lebih banyak kapal yang tenggelam di lokasi lain. "Misteri Segitiga Bermuda tak lebih dari dongeng. Maaf," kata Dillon, di laman USGS.

Badan Antariksa InNASA pun berpendapat demikian. "Tidak ada lubang hitam di Segitiga Bermuda. Pada kenyataannya, bahkan tak ada yang namanya Segitiga Bermuda. Banyaknya kasus kehilangan di wilayah itu konsisten dengan yang terjadi wilayah lainnya," demikian jelas Ilmuwan NASA, Dr Eric Christian.

Berawal dari Columbus

Christopher Columbus, di masa awal penjelajahannya ke Dunia Baru pada 1492, adalah yang pertama mencatat soal anomali di sekitar segitiga imajiner itu.

Saat kapal-kapal armadanya, "Nina", "Pinta", dan "Santa Maria" melintas Laut Sargasso, penjelajah Italia itu mengaku kompasnya menjadi tak menentu. Ia juga melihat cahaya aneh di cakrawala pada 11 Oktober 1492, yang hingga kini belum bisa dijelaskan.

Namun, istilah 'Segitiga Bermuda' baru tenar setelah Vincent H. Gaddis menuliskannya dalam artikel yang terbit Februari 1964 di Majalah "Argosy", yang berjudul "The Deadly Bermuda Triangle" -- Segitiga Bermuda yang mematikan.

Sementara, salah satu bukti bahwa Segitiga Bermuda bukan satu-satunya lokasi kehilangan misterius terjadi Januari tahun lalu. Kala itu, jutawan fashion Italia, Vittorio Missoni dan 5 orang lainnya hilang saat melintasi Laut Karibia.

Di tengah ketidakjelasan itu, muncul teori baru: pesawat beserta seluruh penumpangnya menjadi korban dari "Kutukan Los Roques", fenomena yang dikait-kaitkan dengan Segitiga Bermuda. (Ein/Ism)


Credit: Ein


Sumber:
http://news.liputan6.com/read/822682/pernyataan-resmi-as-segitiga-bermuda-mitos-belaka 

Penampakan Kuburan Kapal di 'Lautan Terkutuk' Segitiga Bermuda

Penampakan Kuburan Kapal di 'Lautan Terkutuk' Segitiga Bermuda

 01 Okt 2014 18:18

Kuburan kapal karam di Segitiga Bermuda
Kuburan kapal karam di Segitiga Bermuda (Facebook/Dive Bermuda)

Liputan6.com, Bermuda - Segitiga Bermuda masih menjadi salah satu tempat paling misterius di muka Bumi. Wilayah laut di dalam garis  imajiner yang menghubungkan 3 titik yaitu Bermuda, Puerto Rico, dan Miami di Amerika Serikat terkenal angker karena sejumlah insiden hilangnya sejumlah kapal dan pesawat di masa lalu.

Lepas rumor adanya 'kutukan' bagi siapapun yang melewatinya, Segitiga Bermuda sejatinya memang kuburan kapal.

Dengan lebih dari 300 bangkai kapal di perairannya, lokasi itu menjadi situs kapal karam terbesar di dunia. Namun, ini bukan cerita horor.

Ada beberapa dugaan mengapa sejumlah kapal dan pesawat hilang di Segitiga Bermuda, di antaranya bahkan tanpa jejak.

Salah satunya, dikarenakan posisinya di Samudera Atlantik di mana arus teluk atau gulf stream menarik kapal ke perairan yang lebih dangkal di di mana ada banyak terumbu dangkal di sana.

Kini, area yang mencelakakan kapal di masa lalu itu justru menjadi situs menyelam kelas dunia, berkat airnya yang dangkal dan jernih. Para penyelam bisa berenang di antara lambung-lambung kapal karatan, meriam tua, dan relik-relik historis.



Salah satu kapal karam yang paling terkenal adalah Cristobal Colon --salah satu bangkai terbesar yang ditemukan di Bermuda. Bahtera mewah Spanyol itu selesai dibuat pada 1923 dan menjadi salah satu yang tercepat di eranya.

Cristobal Colon melayani rute New York ke Amerika Tengah, hingga akhirnya kandas pada 1936 usai menabrak terumbu karang. Kini ia terbaring di kedalaman 16 meter, puingnya menyebar tersebar di area 9.000 meter persegi di bawah laut.

Ada juga kapal perang Prancis, L’Herminie, yang tenggelam pada 1863. Ia menjadi salah satu situs paling menarik di area tersebut. Kapal yang memiliki 3 tiang layar tersebut celaka saat kembali ke negaranya, dan kini terbaring di kedalaman 10 meter

Dan salah satu yang paling bersejarah adalah Mary Celestia, yang memiliki kincir air di sampingnya. Kapal itu disewa selama Perang Saudara Amerika. Digunakan untuk menyelundupkan senjata, amunisi, perlengkapan, dan makanan untuk tentara di selatan. Kapal sepanjang  68 meter itu tenggelam pada 1838 setelah mencapai karang dekat pantai selatan.

Kini, Mary Celestia terbaring di kedalaman 16 meter di dasar laut. Para penyelam bisa menjelajah di sela-sela kincir air, mesin uap, dan jangkarnya.

Ratusan bangkai kapal tetap utuh meski diterpa cuaca buruk Bermuda, berkat program pelestarian laut.  



Kehidupan di dekat Segitiga Bermuda memang tak semengerikan seperti yang dibayangkan. Warga Bermuda William Gillies pernah mengeluarkan buku berjudul 'Reefs, Wrecks & Relics — Bermuda Underwater Heritage' atau 'Karang, Bangkai Kapal, dan Relik -  Warisan Alam Bawah Laut Bermuda'.

Dalam bukunya, Gillies menceritakan pengalamannya menyelami Lautan Bermuda. Seperti dimuat The Royal Gazette, Rabu 28 April 2010, meski tak mungkin lagi turun ke air karena sudah sepuh, tapi ingatannya tentang masa mudanya sebagai pencari harta di bangkai kapal, belum pupus."Dengan menyelam, saya mengetahui kekayaan laut Bermuda," kata dia.

Salah satu dari memori awalnya tentang laut Bermuda adalah peristiwa tenggelamnya sebuah kapal mewah Spanyol, Cristobal Colon di wilayah Karang Utara, 25 Oktober 1936. Saat kapal itu tenggelam, Gillies masih berusia 6 tahun. 

Gillies memulai penyelamannya pada 1965, saat dia berusia 35 tahun. Penemuan sebuah bel dari kapal tua yang tenggelam memicu gairahnya untuk menyelam dan mencari sisa-sisa harta yang karam di dasar laut.

Objek-objek menarik di pasir dan sekitar bangkai kapal sering dia temukan. Misalnya potongan lampu tua berbahan bakar minyak ikan paus. Kadang dia dan pendamping selamnya menemukan pecahan atau potongan tembikar atau porselen.

Beberapa potongan itu dia rekonstruksi menggunakan fiberglass dan getah damar. Beberapa karya restorasi Gillies kini dipajang di Bermuda Underwater Eksplorasi Institute (BUEI).



Sementara, The Royal Gazette pada tahun 1992 juga pernah memuat berita kemarahan penduduk Bermuda pada sebuah iklan telepon genggam yang sesumbar, dengan produknya, orang tetap bisa berkomunikasi, meski 'tersesat di Segitiga Bermuda'.

"Ini akan membunuh pariwisata Bermuda. Kita harus menuntut orang ini," kata pengusaha pariwisata, RJ Zuill, saat itu. "Sangat konyol. Kapal dan pesawat melewati wilayah kita setiap hari dan tak ada apapun yang terjadi," kata dia.

Fakta Ilmiah Segitiga Bermuda



Ada yang menyebut area tersebut 'Segitiga Setan', 'Limbo the Lost', 'Twilight Zone', dan yang paling tenar adalah sebutan 'Segitiga Bermuda -- terinspirasi dari artikel Vincent Gaddis di Majalah Argosy.

Meski, dalam peta Amerika Serikat, The U. S. Board of Geographic, tak ada tempat bernama 'Segitiga Bermuda'.

Legenda Segitiga Bermuda makin ramai diperbincangkan ketika pada 5 Desember 1945 pukul 14.10 waktu setempat, lima pesawat yang dipiloti para penerbang terlatih dari kesatuan Penerbangan 19 tiba-tiba hilang di segitiga itu. Padahal cuaca sedang cerah.

Berbagai macam dugaan aneh muncul, ada yang mengatakan alien yang bersembunyi di bawah lautan, portal ke dimensi lain, gas methan, lokasi Atlantis yang hilang, hingga rumah iblis, Dajal.

Namun, ada juga penjelasan ilmiah yang lebih layak dipertimbangkan untuk menjawab misteri ini.

Seperti di muat laman LiveScience, ada jawaban logis untuk menjelaskan hilangnya kapal atau pesawat di Segitiga Bermuda itu.

Daerah Segitiga Bermuda rentan terhadap badai tak terduga. Ada gelombang -- Gulf Stream -- yang sangat cepat dan turbulen -- menelan serpihan kapal, pesawat, beserta penumpangnya.  Menghapus bukti-bukti terjadinya bencana.

Tak hanya itu, Laut di Segitiga Bermuda memiliki kedalaman hingga 30.000 meter atau lebih dari 9.000 meter dengan kondisi topografinya bisa 'menelan' kapal sehingga tak pernah ditemukan.

Laman Sejarah Angkatan Laut Amerika Serikat, www.history.navy.mil, menjelaskan bahwa faktor signifikan yang menyebabkan hilangnya kapal di Segitiga Bermuda adalah arus laut yang kuat disebut Gulf Stream.

Sebelum telegraf, radio dan radar ditemukan, pelaut tidak tahu ada badai atau angin topan berada di dekatnya. Bencana itu baru ketahuan setelah ada perubahan di cakrawala.

Dijelaskan juga bahwa tidak hanya di Segitiga Bermuda, banyak kapal-kapal Angkatan Laut AS lainnya telah hilang di laut karena  badai di seluruh dunia -- secara mendadak. (Tnt)




Sumber:
http://news.liputan6.com/read/2112976/penampakan-kuburan-kapal-di-lautan-terkutuk-segitiga-bermuda