Friday, November 28, 2014

Bagaimana rumah para pembuat Stonehenge?

Pakai radar, ilmuwan temukan 17 situs purba di bawah Stonehenge

Pakai radar, ilmuwan temukan 17 situs purba di bawah Stonehenge

Reporter : Bramy Biantoro | Kamis, 11 September 2014 09:00


Pakai radar, ilmuwan temukan 17 situs purba di bawah Stonehenge
Stonehenge. © Stonehenge.org.uk

Merdeka.com - Arkeologis asal Inggris kembali menemukan situs-situs penting di sekitar Stonehenge, situs prasejarah paling terkenal di dunia. Uniknya, mereka tidak menemukan situs-situs yang diprediksi berukuran raksa tersebut di atas tanah, melainkan terkubur di bawah tanah.
Para arkeologis asal Universitas Birmingham menggunakan teknologi radar paling canggih untuk meneliti dan memetakan area seluas 5 mil persegi di sekitar Stonehenge. Aktivitas ini juga tercatat sebagai penelitian geofisika terbesar yang pernah dilakukan, Daily Mail(10/09).
Berdasarkan pemindaian sekitar 3 meter di bawah tanah, arkeologis menemukan 17 bukti keberadaan situs-situs raksasa yang diperkirakan terbuat dari kayu dan batu. Di antara situs-situs tersebut, terdapat satu situs kayu berukuran 30 meter. Situs tersebut diperkirakan menjadi tempat ritual untuk menguliti mayat dan telah digunakan oleh tujuh generasi sebelum akhirnya terkubur.
Fungsi utama Stonehenge sebagai penanda posisi matahari juga dikuatkan oleh penemuan saluran-saluran air prasejarah yang diyakini mewakili gambaran astronomi dan pergerakan matahari. Menariknya, pada jarak 3 mil dari Stonehenge terdapat dinding baru setinggi 3 meter yang mempunyai 60 buah pos.
Arkeologis Universitas Birmingham yakin bila Stonehenge dan situs-situs di sekitarnya merupakan kompleks tempat ritual raksasa yang menarik 'pengunjung' dalam jumlah banyak. Manusia-manusia prasejarah tersebut kemudian mulai membangun kuil-kuil mereka sendiri yang akhirnya hanya tersisa 17 situs terpendam seperti saat ini.
[bbo]


Sumber:
http://www.merdeka.com/teknologi/pakai-radar-ilmuwan-temukan-17-situs-purba-di-bawah-stonehenge.html







Misteri batu raksasa 'Stonehenge' terkuak akibat kekeringan

Misteri batu raksasa 'Stonehenge' terkuak akibat kekeringan

Reporter : Bramy Biantoro | Selasa, 2 September 2014 08:01


Misteri batu raksasa 'Stonehenge' terkuak akibat kekeringan
Stonehenge. © Stonehenge.org.uk
Merdeka.com - Stonehenge sejak lama membuat para arkeolog bertanya-tanya tentang bentuk asli dari konstruksi bangunan yang semuanya terdiri dari batu raksasa tersebut. Sekarang, sedikit 'human error' dan faktor iklim secara tidak sengaja membantu arkeolog menentukan bentuk asli dari Stonehenge.
Nama 'Stonehenge' sejatinya diambil dari kata 'stone' yang berarti 'batu' dan 'henge' yang berarti lingkaran. Namun, sampai penemuan baru ini terkuak, peneliti masih belum benar-benar yakin apakah Stonehenge yang dibangun pada zaman Neolitikum itu berbentuk lingkaran penuh.
Tetapi, kini pertanyaan tersebut telah terjawab saat para arkeolog menemukan bekas batuan yang membentuk Stonehenge menjadi lingkaran penuh. Ya, akibat pipa penyiram air yang tidak mampu menjangkau seluruh bagian Stonehenge, sebagian rumput di sana mengering dan mati. Terlebih saat ini di Inggris masih musim panas. Uniknya, tidak sedikit yang menyatakan bila pihak pengelola terlalu 'malas' untuk memanjangkan pipa air ke seluruh bagian Stonehenge.
Menariknya, rumput-rumput yang mengering tersebut membuat pola-pola yang mengindikasikan bahwa di bawah rumput tersebut terdapat sisa-sisa batuan raksasa penyusun Stonehenge.Pertumbuhan rerumputan di atas sebuah batu memang secara tidak langsung akan mempengaruhi pertumbuhannya, membuatnya tumbuh lebih lambat dari rumput yang tumbuh di lapisan tanah utuh. Kekeringan saat musim panas pun semakin membuat pola-pola rumput kering tersebut terlihat jelas.
Hal ini tak pelak menjadi kebetulan yang sangat menguntungkan. Sebab, sebelumnya para peneliti tidak menemukan apa-apa saat melakukan pengamatan menggunakan survei geofisika dengan kamera beresolusi tinggi dan proses penggalian, The Telegraph (01/09).
Walaupun pertanyaan tentang bentuk dari Stonehenge sudah terjawab, arkeolog masih harus dipusingkan lagi dengan pertanyaan baru, apa yang terjadi pada batu-batu yang dulunya membentuk Stonehenge menjadi lingkaran penuh?
Para arkeolog pun yakin banyak hal yang mereka harus pelajari dari struktur batuan raksasa yang telah menjadi situs Warisan Dunia UNESCO tersebut. Misalnya, siapa yang membangun Stonehenge dan tujuannya, serta tidak lupa cara mereka membangunnya.
[bbo]



Sumber:
http://www.merdeka.com/teknologi/misteri-batu-raksasa-stonehenge-terkuak-akibat-kekeringan.html

Menguak misteri patung kayu tertua di dunia, Shigir Idol

Menguak misteri patung kayu tertua di dunia, Shigir Idol

Reporter : Bramy Biantoro | Kamis, 23 Oktober 2014 07:15

Menguak misteri patung kayu tertua di dunia, Shigir Idol
Patung kayu Shigir Idol. © The Siberian Times
Merdeka.com - Apabila ada benda peninggalan manusia yang dapat menyaingi umur piramida di Mesir, mungkin salah satu jawabannya adalah Shigir Idol.
Selain menjadi yang tertua, patung kayu raksasa tersebut juga diklaim memuat petunjuk awal mula kehidupan manusia. Patung Shigir Idol yang ditemukan di pegunungan Ural pada tahun 1890 tersebut dinyatakan berumur 9.500 tahun, hampir dua kali umur piramida Mesir.
Para ilmuwan Rusia sendiri berpendapat bila Shigir Idol menyimpan informasi rahasia tentang awal mula penciptaan dunia. Hal ini bermula dari simbol-simbol yang terukir di permukaan Shigir Idol.
Terdapat simbol berupa garis lurus, zigzag, salib, kubus, lingkaran , dan lain-lain. Svetlana Savchenko, arkeolog yang menjadi pimpinan 'penjaga' Shigir Idol di museum Yekaterinburg, Rusia, mengungkapkan bila simbol-simbol alam yang dipahami oleh manusia di era Mesolitikum.
"Garis bergelombang bisa menggambarkan air, ular, kadal, atau sebuah batas tertentu. Sedangkan, garis zigzag bisa menyimbolkan bencana dan lingkaran bisa menjadi simbol dari matahari," ujar Savchenko.
Teori pesan 'pembentukan alam semesta' di tubuh Shigir Idol juga diamini oleh ilmuwan lain, Petr Zolin. Zolin menyatakan bila 7 wajah dan tubuh tinggi dari Shigir Idol mengindikasikan asal mula manusia dan bumi. Ketujuh wajah dari Shigir Idol diyakini sebagai perwujudan banyak jiwa yang menghuni bumi di masa lalu. Dari ketujuh wajah tersebut, hanya satu yang dipahat dalam bentuk tiga dimensi, sementara lainnya hanya ukiran saja.
"Gambar yang terletak bagian depan dan belakang Shigir Idol milik 'dunia' yang berbeda. Apabila gambar-gambar tersebut menggambarkan proses terbentuknya alam semesta, maka susunan gambar secara vertikal bisa menjadi tanda urutan dari kejadian tersebut (pembentukan dunia)," ujar Zolin.
Shigir Idol dibuat dari kayu sejenis pinus raksasa berumur 159 tahun dengan panjang mencapai 5,3 meter. Namun, dua meter bagian dari Shigir Idol dinyatakan hilang saat saat kerusuhan politik menimpa Rusia di abad 20. Kini yang tertinggal hanya sekitar 2,8 meter saja.
Patung kayu yang berumur 4000-5000 tahun lebih tua dari monumen batu Stonehenge itu kini menjadi idola tersendiri di kalangan ilmuwan. Sebab, sampai saat ini tidak pernah ditemukan patung kayu dengan model yang sama dengan Shigir Idol di seluruh Eropa.
"Mempelajari Shigir Idol adalah sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Tidak ada patung kuno lain seperti itu di seluruh daratan Eropa," kata Thomas Terberger, ahli prasejarah asal Jerman,Daily Mail (22/10).
Sekarang ilmuwan memang belum bisa mengungkap seluruh misteri dari Shigir Idol, namun para ilmuwan Jerman diprediksi akan bisa menguak umur pasti dari artefak tersebut di bulan Februari tahun depan.
[bbo]


Sumber:
http://www.merdeka.com/teknologi/menguak-misteri-patung-kayu-tertua-di-dunia-shigir-idol.html