Monday, January 5, 2015

Temuan Arkeologi Mencengangkan dan Kontroversial dari Indonesia Tahun 2014

Temuan Arkeologi Mencengangkan dan Kontroversial dari Indonesia Tahun 2014

Rabu, 31 Desember 2014 | 10:34 WIB
AFP PHOTO / NATURE / KINEZ RIZAFoto yang dirilis jurnal Nature, 8 Oktober 2014, menunjukkan gambar tangan ditemukan di dinding gua di Karst Maros karst, Sulawesi Selatan. Lukisan berusia 40.000 tahun, menunjukkan bahwa Eropa tidak lagi dinobatkan sebagai tempat kelahiran seni lama ini.


KOMPAS.com - Tahun 2014, arkeologi Indonesia berjaya dan menjadi sorotan dunia. Sejumlah temuan menarik dan penting diungkap oleh arkeolog tanah air maupun asing. Ada yang sangat mencengangkan, ada yang yang sangat kontroversial. Apa saja?


Lukisan Goa

BBC
Lukisan tua di goa di Sulawesi menggambarkan wujud hewan yang kemungkinan hanya ada dan diburu di Sulawesi.

Lukisan goa di kawasan karst Maros, Sulawesi, adalah temuan yang paling mencengangkan. Lukisan, atau yang lebih tepatnya disebut gambar cadas, itu berusia 40.000 tahun, paling tua di dunia.

Usia gambar cadas itu terungkap berkat kerjasama arkeolog dari Pusat Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Makassar, Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Makassar, dan Universitas Wollongong di Australia.

Gambar cadas yang ditemukan berbentuk tangan. Selain yang berusia 40.000 tahun, ditemukan pula gambar cadas lain yang lebih muda, diantaranya yang berupa gambar naturalis babirusa berusia 35.400 tahun.

Baca:



Torehan Cangkang

WIM LUSTENHOUWER, VU UNIVERSITY AMSTERDAM
Gambar kuno tertua di dunia pada cangkang kerang dari situs Trinil. Gambar berbentuk zig-zag tersebut ditaksir berusia 500.000 tahun.

Temuan lain yang tak kalah menarik adalah torehan pada cangkang kerang purba. Torehan itu sebenarnya sangat sederhana, hanya berupa garis zig-zag. Tapi, karena usia dan pembuatnya gambar itu jadi menarik.

Terungkap lewat riset Josephine CA Jordens, peneliti pada Fakultas Arkeologi di Universitas Leiden, Belanda, torehan cangkang tersebut merupakan yang tertua di dunia, berasal dari masa 500.000 tahun lalu.

Uniknya, torehan itu bukan dibuat oleh manusia modern (Homo sapiens), tetapi oleh manusia purba Solo (Homo erectus). Torehan itu menunjukkan bahwa kreativitas sudah berkembang sejak sebelum manusia modern sendiri ada.

Baca:


Jejak Bangunan Kuno di Liyangan

KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYAT
Tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan ekskavasi lanjutan di Situs Liyangan, kaki Gunung Sindoro di Purbosari, Ngadirejo, Temanggung, Jateng, Minggu (23/11/2014). Dalam ekskavasi kali ini ditemukan reruntuhan rumah hunian yang diperkirakan berasal dari abad ke-6.

Temuan dari situs Liyangan di kaki Gunung Sindoro merupakan yang paling menarik beberapa tahun belakangan. Sejak ditemukan tahun 2008 lalu, penggalian menghasilkan temuan penting seperti gerabah dan keramik kuno, candi, dan bangunan lain.

Dalam ekskavasi pada November 2014 lalu, tim Balai Arkeologi Yogyakarta yang dipimpin oleh Sugeng Riyanto sejumlah lubang. Lubang tersebut dipercaya merupakan jejak adanya bangunan kuno, mungkin berupa rumah.

Sugeng memercayai, lubang tersebut merupakan tempat bambu penyangga rumah diletakkan. Dahulu, masyarakat Liyangan memiliki rumah yang terbuat dari bambu dengan lantai papan dan beratap ijuk.

Baca:


Kingkong Setinggi 3 Meter

Siswanto/Balai Arkeologi Yogyakarta
Fragmen rahang bawah King Kong Jawa Purba yang ditemukan di situs Semedo, Tegal, Jawa Tengah.

Di situs Semedo, Jawa Tengah, bulan Juni 2014 lalu seorang warga menemukan tulang belulang. Temuan itu kemudian ditindaklanjuti oleh tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta. Terungkap, tulang itu milik seekor kingkong.

Temuan itu mencengangkan. Sebab, analisis mengungkap bahwa dengan ukuran tulang tersebut, kingkong yang sebenarnya bisa berukuran 3 meter. Spesies kingkong yang ditemukan adalah Gigantopithecus blacki.

Kepala balai Arkeologi Yogyakarta, Siswanto, mengungkapkan, temuan menunjukkan bahwa si kera raksasa pernah hidup di tanah Jawa, berbeda dengan yang diyakini para ilmuwan bahwa kera  raksasa hanya hidup di daerah utara.

Baca:


Koin Gunung Padang

Lutfi Yondri
Kemiripan koin Gunung Padang dengan uang logam tahun 1945.

Koin Gunung Padang menjadi temuan yang paling kontriversial. Ditemukan lewat penggalian oleh Tim Riset Nasional Gunung Padang pada September 2014 lalu, koin diklaim berasal dari masa 500 - 5200 SM.

Namun, analisis oleh arkeolog dari Balai Arkeologi Bandung, Lutfi Yondri, koin tersebut ternyata mirip dengan koin Belanda tahun 1945. Usia perkiraan tim riset dianggap tidak cocok dengan kedalaman tempat koin ditemukan, 11 meter.

Baca:





Editor: Yunanto Wiji Utomo





Sumber:http://sains.kompas.com/read/2014/12/31/10344041/Temuan.Arkeologi.Mencengangkan.dan.Kontroversial.dari.Indonesia.Tahun.2014

No comments:

Post a Comment