Monday, November 9, 2015

Ulang Tahun DNA Ke-60

Ulang Tahun DNA Ke-60

SENIN, 20 MEI 2013 | 07:47 WIB
TEMPO.CO, Jakarta- PADA 25 April 1953, Francis Crick dan James Watson menerbitkan makalah satu halaman yang diyakini bakal membawa revolusi dalam penelitian di bidang biologi. Berbekal karya Rosalind Franklin dan Maurice Wilkins, mereka menemukan struktur dua ulir DNA, yang membukakan jendela bagaimana organisme mewarisi dan menyimpan catatan-catatan biologis. Tapi, 60 tahun kemudian, apakah penemuan mereka telah benar-benar membawa dampak transformatif yang diharapkan dunia ini?

Media menandai ulang tahun ke-60 diterbitkannya makalah itu dengan gegap gempita, mengelu-elukannya sebagai terobosan yang “mengusung era genetika,” dan menamakannya sebagai “salah satu penemuan ilmiah paling penting sepanjang masa”. Koran Inggris, The Guardian, memasang kepala berita “Selamat Ulang Tahun DNA! Momen Emas yang Telah Mengubah Segalanya.”

Dalam beberapa hal, mereka benar. Penemuan itu membentuk basis genetika dan membuka wilayah penelitian baru yang menjanjikan, seperti biologi sintetis, di mana sistem-sistem biologis diciptakan dan dimodifikasi untuk melakukan fungsi-fungsi tertentu. Begitu juga, ia telah memperlancar inovasi-inovasi penting, seperti pengobatan kanker farmakogenetis, di mana kelainan-kelainan tertentu dalam kanker menjadi sasaran obat.

Selain itu, DNA telah memperoleh nama yang mistis dalam budaya populer. Menurut Dorothy Nelkin dan Susan Lindee, DNA telah menjadi entitas yang dikeramatkan—setara dengan roh Kristen zaman ini, suatu esensi individu. Walaupun beberapa bentuk determinisme biologis, seperti kepercayaan bahwa ras atau gender menentukan nasib seseorang, telah ditolak secara luas, ide bahwa seseorang bisa secara genetis cenderung, katakan, suka berutang, menjadi diktator yang kejam, atau setia ikut memberikan suara dalam suatu pemilihan tetap diterima dalam masyarakat.

Tapi, nyaris dari awal—dan paling intens sejak 1971, ketika majalah Time menerbitkan kolom khusus berjudul The New Genetics: Man into Superman—sains dan masyarakat sama-sama cenderung terlalu membesar-besarkan dampak genetika. Ketika Human Genom Project menerbitkan konsep pertama genom manusia yang sepenuhnya berentet pada 2000, Henry Gee, editor jurnal Nature, meramalkan bahwa ilmuwan akan mampu “mengubah seluruh organisme sesuai dengan kebutuhan dan selera kita” menjelang 2099. “Kita bakal memiliki ekstra-kaki dan tangan bila kita menghendakinya,” demikian katanya, “mungkin bahkan sayap untuk terbang.”

Tiga belas tahun kemudian, ramalan Gee semakin tidak mungkin terjadi, dengan gagalnya Human Genom Project memenuhi harapan. Pada 2010, penulis sains Nicholas Wade mengeluh, sepuluh tahun setelah diluncurkannya proyek itu, para pakar genetika “nyaris kembali ke titik awal dalam pencarian akar penyakit-penyakit yang biasa”.

Misalnya, studi yang dilakukan selama 12 tahun terhadap 19 ribu orang wanita kulit putih Amerika menemukan bahwa 101 tanda genetis yang secara statistik dikaitkan dengan penyakit jantung ternyata tidak memiliki nilai prediktif. Sebaliknya, catatan medis yang dilaporkan sendiri oleh keluarga terbukti sangat akurat dalam memprediksi penyakit.

Sebenarnya, kebanyakan penyakit tidak disebabkan oleh satu gen saja. Walhasil, setelah mencapai kesuksesan awal dengan penyakit-penyakit khas satu gen, seperti penyakit Huntington, kemajuan selanjutnya macet. Varian-varian biasa tidak banyak menjelaskan risiko genetis yang ada.
Genetika menjadi sumber harapan yang sangat tinggi bila menyangkut pengobatan kanker. Antara 1962 dan 1985, angka kematian terkait dengan kanker di Amerika Serikat meningkat 8,7 persen kendati digunakannya kemoterapi dan terapi radiasi yang agresif, yang menunjukkan bahaya pendekatan satu ukuran untuk semua dalam pengobatan kanker. Pemahaman penentu genetis dari respons yang ditunjukkan pasien, demikian diyakini, bakal memungkinkan dokter mengembangkan program pengobatan secara individu sehingga membebaskan lebih banyak pasien yang responsif dari pengobatan berlebihan yang berbahaya.
Tapi pasien bukan satu-satunya variabel. Kanker juga bersifat heterogen, bahkan pada pasien dengan diagnosis yang sama. Setelah merentetkan seluruh genom tumor kanker payudara dari 50 pasien, para peneliti menemukan bahwa hanya 10 persen dari tumor itu mengandung lebih dari tiga mutasi yang sama. Menurut studi baru-baru ini yang memetakan mutasi genetis pada 2.000 tumor, kanker payudara sebenarnya bisa dibagi menjadi sepuluh sub-kelompok.
Begitu juga, analisis sel ganas keseluruhan genom dari empat pasien kanker ginjal menunjukkan bahwa, sementara sel-sel itu terkait satu sama lain, ia telah bermutasi ke beberapa arah. Dua pertiga dari kelainan genetis yang diidentifikasi ternyata tidak berulang pada tumor yang sama, apalagi dalam tumor lainnya yang sudah disebarkan ke beberapa bagian tubuh lainnya melalui tindak metastasis. Mengingat target obat farmakogenetis itu hanya satu mutasi dalam tumor, maka ia tidak mesti ampuh juga pada mutasi lainnya. Di samping itu, sementara kanker menyesuaikan diri dengan obat, mutasi selanjutnya mungkin terjadi, sehingga menurunkan daya ampuh obat.
Yang jelas, farmakogenetika telah membawa perubahan yang dalam bagi sementara pasien. Barbara Bradfield, salah seorang subyek awal dalam uji coba obat kanker farmakogenetis Herceptin, sudah berada dalam keadaan stabil selama lebih dari 20 tahun berkat memakan obat itu. Tapi kisah keberhasilan ini terlalu jarang terjadi untuk dinamakan “era emas” genetika.
Tingginya harga obat ini membatasi dampak baiknya juga. Penggunaan Herceptin bisa menelan biaya sampai US$ 40 ribu per tahun, sedangkan obat-obat yang lebih baru bahkan menelan biaya yang lebih besar, sehingga obat kanker yang baru itu sangat mahal bagi sebagian besar pasien.

Mahkamah Agung AS baru-baru ini dihadapkan pada persoalan apakah gen bisa dipatenkan. Jika pengadilan mengesahkan paten yang diklaim perusahaan biologi Myriad Genetics atas dua gen yang, dalam beberapa varian, terkait dengan risiko tinggi kanker payudara dan indung telur, perusahaan ini bakal memegang hak eksklusif penggunaan gen-gen itu dalam penelitian, diagnosis, dan pengobatan selama dua dekade, sehingga menutup pintu bagi perusahaan-perusahaan pesaing dalam mengembangkan obat-obat alternatif. Wanita sudah tidak bisa memperoleh akses tes diagnostik yang mereka perlukan, karena perusahaan asuransi menolak membayar harga yang tinggi yang dikenakan perusahaan tersebut.
Perusahan-perusahaan farmasi mengklaim bahwa paten-paten, yang sekarang meliputi 25-40 persen dari genom manusia, vital bagi mereka untuk mengembalikan investasi yang telah mereka tanamkan. Tapi paten-paten semacam ini merusak perayaan “ulang tahun” DNA bagi pasien yang bakal menarik manfaat dari hasil penelitian genetis—jika saja mereka bisa memperolehnya dengan harga yang terjangkau.


Donna Dickenson, Guru Besar Emeritus Etika Kedokteran dan Humaniora pada University of London, pengarang buku Me Medicine vs. We Medicine yang segera diterbitkan


Hak cipta: Project Syndicate, 2013.

Sumber;
http://www.tempo.co/read/kolom/2013/05/20/722/ulang-tahun-dna-ke-60
 

No comments:

Post a Comment