Monday, May 26, 2014

Ini Harta Karun Sesungguhnya dari Perbukitan Kapur 'Perawan' Kaltim

Senin, 14/04/2014 17:35 WIB

Perlindungan Karst

Ini Harta Karun Sesungguhnya dari Perbukitan Kapur 'Perawan' Kaltim

AN Uyung Pramudiarja - detikRamadan
Foto:www.nature.or.id
Jakarta - Menjelajah gua-gua di perbukitan karst Sangkulirang Mangkalihat di Kalimantan Timur (Kaltim) tak ubahnya menelusuri lorong waktu. Lukisan purba di dinding dan langit-langit gua merekam jejak peradaban manusia sejak ribuan tahun silam.

Sedikitnya ada 30 gua bernilai sejarah di kawasan yang membentang dari Kabupaten Berau hingga Kutai Timur ini. Itu pun baru area seluas 80 Km x 100 Km yang telah disurvei, sementara bentang alam Karst Sangkulirang Mangkalihat mencapai 1,8 juta hektar.

Peninggalan pra sejarah yang paling banyak ditemukan di kawasan ini adalah lukisan gua atau rock art yang jumlahnya mencapai 2.300 gambar dan didominasi gambar telapak tangan dengan susunan tertentu. Peneliti Karst dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Pindi Setiawan menyebutkan gugusan Karst di kawasan ini paling lengkap di Asia Pasifik.

Mirip ensiklopedi, lukisan-lukisan tersebut merekam peradaban sejak masa yang paling tua yakni sebelum ada hutan tropis di Kalimantan, yang digambarkan dengan imaji tentang alat-alat berburu dan mamalia besar seperti banteng dan rusa betina. Pada masa itu, Ras Austronesia menurut teori bahkan belum masuk ke Kalimantan.

Alat-alat untuk berburu yang tergambar dalam lukisan tersebut diantaranya adalah panah, yang menurut Pindi tidak lazim digunakan di hutan tropis dengan vegetasi yang rapat. Gambar inilah yang memunculkan asumsi bahwa peradaban di gua-gua ini berusia lebih tua dari hutan tropis.

"Minimal 8.000 tahun yang lalu ketika Kalimantan masih berupa savana. Sebab kalau sudah menjadi hutan tropis, tidak mungkin ada gambar panah. Di hutan, orang berburu dengan tombak atau sumpit," tutur Pindi kepada detikFinance pekan lalu.

Aktivitas pemujaan juga terekam dalam lukisan-lukisan gua yang ditemukan di kawasan ini. Gambar tokek misalnya, menunjukkan adanya tradisi pemujaan terhadap roh nenek moyang.

Gambar rusa jantan (bertanduk), yang selalu digambarkan dalam posisi terbang, menunjukkan bahwa binatang tersebut disakralkan. Gambar saman atau dukun dengan topi besar dan rumbai-rumbai juga banyak ditemukan, dan menunjukkan adanya kepercayaan mistis.

Dari peradaban yang lebih muda, Pindi menemukan beberapa gua dengan lukisan dayak yang dibuat dari arang (carchoal). Bahkan di salah satu gua, ditemukan juga lukisan berbagai jenis perahu, dari yang masih sangat sederhana hingga yang paling terbaru yakni kapal uap.

Masih Menjadi Perdebatan

Peter Bellwood, seorang arkeolog dari Australia dalam bukunya Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago menyebut bahwa ras Austronesia baru bermigrasi dari Taiwan ke Pasifik melewati Kalimantan sekitar 4.000 tahun lalu. Adanya bukti peradaban yang lebih tua di Kalimantan membuka kemungkinan bahwa Austronesia datang ke Kalimantan lebih awal.

"Bisa jadi Sangkulirang ini adalah tempat persinggahan ras Austronesian, semacam Timur Tengah kalau pada migrasi Homo Sapiens. Mereka (Austronesia) lama menetap di sini sebelum menyebar ke separuh dunia, yakni ke wilayah Pasifik. Ke timur sampai Hawaii, ke selatan sampai Pulau Paskah, dan ke barat sampai Madagaskar," lanjut Pindi.

Temuan lain yang menunjukkan bahwa lukisan-lukisan gua di Karst Sangkulirang-Mangkalihat berusia lebih dari 4.000 tahun adalah gambar tapir di beberapa gua. Tapir sendiri diperkirakan punah dari kawasan tersebut sejak 6.000 tahun lalu.

Pindi mengakui bahwa asumsinya tentang usia lukisan-lukisan gua masih bisa diperdebatkan. Perdebatan itu tidak akan pernah terpecahkan seandainya ekosistem karst tempat gua-gua bersejarah perekam jejak nenek moyang ini tidak dilestarikan.

"Kemungkinan lain, usianya memang kurang dari 4.000 tahun. Lalu yang menjadi pertanyaan, siapa yang menggambar? Sampai sekarang kita juga tidak tahu persis siapa yang menggambar," kata Pindi.

( up / hen )


Sumber:
http://ramadan.detik.com/read/2014/04/14/170637/2554825/4/ini-harta-karun-sesungguhnya-dari-perbukitan-kapur-perawan-kaltim

 

 

Ini Harta Karun Sesungguhnya dari Perbukitan Kapur 'Perawan' Kaltim



Menjelajah gua-gua di perbukitan karst Sangkulirang Mangkalihat di Kalimantan Timur (Kaltim) tak ubahnya menelusuri lorong waktu. Lukisan purba di dinding dan langit-langit gua merekam jejak peradaban manusia sejak ribuan tahun silam.

Sedikitnya ada 30 gua bernilai sejarah di kawasan yang membentang dari Kabupaten Berau hingga Kutai Timur ini. Itu pun baru area seluas 80 Km x 100 Km yang telah disurvei, sementara bentang alam Karst Sangkulirang Mangkalihat mencapai 1,8 juta hektar.

Peninggalan pra sejarah yang paling banyak ditemukan di kawasan ini adalah lukisan gua atau rock art yang jumlahnya mencapai 2.300 gambar dan didominasi gambar telapak tangan dengan susunan tertentu. Peneliti Karst dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Pindi Setiawan menyebutkan gugusan Karst di kawasan ini paling lengkap di Asia Pasifik.

Mirip ensiklopedi, lukisan-lukisan tersebut merekam peradaban sejak masa yang paling tua yakni sebelum ada hutan tropis di Kalimantan, yang digambarkan dengan imaji tentang alat-alat berburu dan mamalia besar seperti banteng dan rusa betina. Pada masa itu, Ras Austronesia menurut teori bahkan belum masuk ke Kalimantan.

Alat-alat untuk berburu yang tergambar dalam lukisan tersebut diantaranya adalah panah, yang menurut Pindi tidak lazim digunakan di hutan tropis dengan vegetasi yang rapat. Gambar inilah yang memunculkan asumsi bahwa peradaban di gua-gua ini berusia lebih tua dari hutan tropis.

"Minimal 8.000 tahun yang lalu ketika Kalimantan masih berupa savana. Sebab kalau sudah menjadi hutan tropis, tidak mungkin ada gambar panah. Di hutan, orang berburu dengan tombak atau sumpit," tutur Pindi kepada detikFinance pekan lalu.

Aktivitas pemujaan juga terekam dalam lukisan-lukisan gua yang ditemukan di kawasan ini. Gambar tokek misalnya, menunjukkan adanya tradisi pemujaan terhadap roh nenek moyang.
Gambar rusa jantan (bertanduk), yang selalu digambarkan dalam posisi terbang, menunjukkan bahwa binatang tersebut disakralkan. Gambar saman atau dukun dengan topi besar dan rumbai-rumbai juga banyak ditemukan, dan menunjukkan adanya kepercayaan mistis.

Dari peradaban yang lebih muda, Pindi menemukan beberapa gua dengan lukisan dayak yang dibuat dari arang (carchoal). Bahkan di salah satu gua, ditemukan juga lukisan berbagai jenis perahu, dari yang masih sangat sederhana hingga yang paling terbaru yakni kapal uap.

Masih Menjadi Perdebatan

Peter Bellwood, seorang arkeolog dari Australia dalam bukunya Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago menyebut bahwa ras Austronesia baru bermigrasi dari Taiwan ke Pasifik melewati Kalimantan sekitar 4.000 tahun lalu. Adanya bukti peradaban yang lebih tua di Kalimantan membuka kemungkinan bahwa Austronesia datang ke Kalimantan lebih awal.

"Bisa jadi Sangkulirang ini adalah tempat persinggahan ras Austronesian, semacam Timur Tengah kalau pada migrasi Homo Sapiens. Mereka (Austronesia) lama menetap di sini sebelum menyebar ke separuh dunia, yakni ke wilayah Pasifik. Ke timur sampai Hawaii, ke selatan sampai Pulau Paskah, dan ke barat sampai Madagaskar," lanjut Pindi.

Temuan lain yang menunjukkan bahwa lukisan-lukisan gua di Karst Sangkulirang-Mangkalihat berusia lebih dari 4.000 tahun adalah gambar tapir di beberapa gua. Tapir sendiri diperkirakan punah dari kawasan tersebut sejak 6.000 tahun lalu.

Pindi mengakui bahwa asumsinya tentang usia lukisan-lukisan gua masih bisa diperdebatkan. Perdebatan itu tidak akan pernah terpecahkan seandainya ekosistem karst tempat gua-gua bersejarah perekam jejak nenek moyang ini tidak dilestarikan.

"Kemungkinan lain, usianya memang kurang dari 4.000 tahun. Lalu yang menjadi pertanyaan, siapa yang menggambar? Sampai sekarang kita juga tidak tahu persis siapa yang menggambar," kata Pindi.


Sumber:
http://www.kaskus.co.id/thread/534c915e1f0bc34e3c8b4793/ini-harta-karun-sesungguhnya-dari-perbukitan-kapur-perawan-kaltim

No comments:

Post a Comment