Saturday, September 27, 2014

Gunung Padang, Bukti Tatar Sunda Dihuni Bangsa yang Unggul? (bagian 1)

Gunung Padang, Bukti Tatar Sunda Dihuni Bangsa yang Unggul? (bagian 1)

Oleh Egi GP

Situs Megalitikum Gunung Padang di Cianjur kerap memicu orang untuk berdecak kagum dan menggelengkan kepala. Bagaimana bisa orang dulu bisa membuat struktur bangunan semegah itu? Pertanyaan itu pasti muncul dari mulut siapapun yang mengunjungi Gunung Padang. Pertanyaan yang sama membuat pemerintah Republik Indonesia memfasilitasi penelitian atas Gunung Padang.
Hasilnya luar biasa! Bahkan sebuah laboratorium Beta Analis yang berbasis di Miami, Amerika Serikat (AS) memvalidasi bahwa situs Gunung Padang lebih tua dibandingkan Piramida Giza di Mesir. Seperti diketahui Piramida Giza dibangun sekitar 2.500 SM.

Lab tersebut melakukan tes carbon-dating terhadap contoh pasir, tanah dan arang yang diambil dari kedalaman antara 3 sampai 12 meter di dalam tanah Gunung Padang. Hasilnya menunjukkan bahwa bangunan pra sejarah Gunung Padang dibangun 14.000 SM bahkan lebih dari itu.

Jika merunut pada timeline sejarah dunia, maka antara 10.000 s/d 20.000 tahun SM termasuk dalam era Pleistocene atau Zaman Es. Kala itu, Tatar Sunda bersama dengan Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan tergabung dalam sebuah daratan yang disebut Sundaland. Baca: http://en.wikipedia.org/wiki/Sundaland).

Sundaland disebutkan sebagai salah satu area di wilayah yang saat ini disebut Asia Tenggara. Pasca berakhirnya Zaman Es ditandai dengan banyaknya muncul pulau-pulau di Nusantara, penghuni Sundaland banyak yang bermigrasi ke Asia Tenggara daratan.

Jika merunut ke penjelasan tersebut, bisa dibuat hipotesa awal bahwa yang membuat Situs Megalitikum Gunung Padang adalah orang-orang Sundaland. Jika demikian, penduduk Sundaland memiliki peradaban yang sangat tinggi. Bisa jadi itu pula yang mendasari pernyataan Prof. Arysio Santos dari Brasil bahwa benua Atlantis yang telah lama hilang selama berabad-abad itu terletak di Asia Tenggara, tepatnya di Indonesia.  Baca: http://daerah.sindonews.com/read/731958/30/indonesia-adalah-benua-atlantis-yang-hilang.

Punden Berundak Terbesar di Asia Tenggara  

Gunung Padang merupakan situs megalitikum dengan model punden berundak terbesar di Asia Tenggara. Situs ini terletak di desa Cimenteng, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Gunung Padang pernah dicatat oleh NJ. Krom, seorang peneliti kolonial Belanda pada tahun 1914.
Punden ini dibangun di puncak bukit dengan ketinggian 885 MDPL. Bebatuan di gunung ini berbentul balok (colimnar joint) yang berasal dari Gunung Padang itu sendiri. Balok-balok batu tersebut memiliki bentuk prisma dengan ukuran beragam. Punden berundak Gunung Padang terdiri dari 5 teras yang dibangun dengan susunan dan fungsi yang berbeda. Pada masanya, diperkirakan peziarah melalui tahapan setiap teras, sampai pada teras kelima sebagai teras tertinggi dan dianggap paling sakral.

Dari bawah, jalan menuju puncak bukit ini ada 2 jalur kiri merupakan jalur asli dengan kemiringan sekitar 50 derajat. Sedangkan jalur kanan merupakan jalur baru yang dipergunakan untuk wisata. Disarankan untuk melewati jalur asli. Di dasar tangga ini terdapat sumber air kahuripan yang digunakan untuk bersuci sebelum para peziarah naik ke atas. Katanya biar tidak capek naik ke atas.
Jarak antar anak tangga lumayan tinggi. Setelah lelah melewati beberapa anak tangga tadi sampai lah di teras 1. Menurut cerita, Gunung Padang banyak batu-batu yang mengandung besi atau yang disebut batu andesit. Batu andesit menyerap energi yang positif. Jadi sekitar area ini itu berenergi positif dan kalau kita masih punya energi negative, maka akan merasa capek ketika naik tangga tadi. Itu tandanya tubuh kita sedang di netralisir agar mengandung energi yang positif.

Lima teras Gunung Padang

Teras pertama dari Gunung Padang, menurut Kang Jae (guide Gunung Padang), adalah ruang musik yang berbentuk persegi panjang sekitar 3x7 meter. Di belakang ruang pertunjukan ini terdapat batu gamelan yang bisa menghasilkan suara nyaring ketika dipukul. Di tengah ruang pertunjukan tadi juga terdapat batu yang digunakan untuk menaruh sesajen. Kata Kang Jae, teras 1 ini mungkin dulunya digunakan untuk belajar kesenian.

Dari teras 1 naik ke teras 2. Naik ke teras 2 melalui samping yang merupakan jalan baru yang dibuat khusus karena tangga aslinya terlalu terjal dan banyak yang rusak. Di teras 2, masih menurut Kang Jae, digunakan untuk belajar tentang keduniawian. Di sini terdapat batu lumbung yang merupakan simbol kehidupan.

Di teras ini juga terdapat ruang pertemuan. Batu di ruang ini menyerupai kursi sederhana yang membentuk lingkaran. Di teras 2 juga terdapat 2 pohon besar salah satu dari pohon ini adalah Pohon Cempaka atau Pohon Khantil. (bersambung)


Sumber:
http://www.sukabumi-utara.com/index.php/93-gunung-padang-bukti-tatar-sunda-dihuni-bangsa-yang-unggul-bagian-1

No comments:

Post a Comment