Sunday, October 12, 2014

Budaya Zaman Bercocok Tanam

Budaya Zaman Bercocok Tanam


Masyarakat masa bercocok tanam sudah memperhatikan tentang kesenian misalnya ditemukannya kulit kerang yang digunakan sebagai kalung, gelang-gelang dari batu indah dan manik-manik. Di dalam gua-gua yang menjadi tempat tinggal mereka ditemukan lukisan-lukisan dengan beberapa warna. Hasrat untuk mengekspresikan keindahan muncul ketika manusia mulai menetap sementara di goa-goa. Ekspresi keindahan itu dituangkan dalam bentuk seni lukis dengan media dinding-dinding goa atau permukaan batu. Ketika manusia sudah mulai hidup menetap, ekspresi keindahan bertambah variasinya. Seiring dengan perkembangan teknik tuang logam dan pembuatan gerabah, dalam aspek seni muncul seni lukis dalam bentuk relief dan seni patung.
Relief sebenarnya merupakan penegasan dari seni lukis dengan media permukaan batu, seni patung diwujudkan dalam bentuk patung menhir atau patung-patung megalitik (batu besar) lainnya. Aspek lain yang terkandung dalam seni rupa itu adalah nilai-nilai magis-religius. Oleh karena itu, gaya penampilan seninya juga dipengaruhi oleh latar belakang kepercayaan senimannya. Hal itu terlihat jelas pada seni rupa masa protosejarah yang kurang memperhatikan segi anatomis dan proporsi. Seni pada waktu itu lebih ditekankan pada segi simbolisnya.
Untuk memperoleh gambaran mengenai seni rupa pada masa proto-sejarah, berikut ini diuraikan hasil-hasil seni rupa seperti seni lukis, seni patung, dan seni kerajinan. Kegiatan seni melukis berupa lukisan di dinding-dinding goa atau dinding-dinding karang sudah dilakukan oleh manusia sejak masa berburu dan meramu. Hal itu terbukti dari temuan-temuan di Prancis, Afrika, India, Thailand, dan Australia. Kegiatan seni lukis di Indonesia diperkirakan sudah ada sejak masa berburu dan meramu tingkat lanjut. Bukti mengenai hal itu ditemukan di Sulawesi Selatan, Kepulauan Maluku, dan di Irian Jaya.
Di Leang Pattae, di Sulawesi Selatan juga ditemukan lukisan di dinding goa. Bentuk lukisannya berupa cap-cap tangan dengan latar belakang cat merah dan seekor babi rusa yang sedang melompat dengan panah menancap dijantungnya. Kebanyakan bentuk lukisan di goa-goa di Sulawesi Selatan ini berupa cap-cap tangan, baik dengan jari lengkap maupun tidak, dan babi rusa. Sementara itu, di goa-goa di Pulau Muna, daerah Sulawesi Tengah, bentuk lukisan yang ditemukan beraneka ragam, misalnya ada manusia menunggang kuda, memegang tombak atau pedang, kuda, rusa, anjing, buaya, matahari, dan perahu layar. Warna lukisannya didominasi warna cokelat.
Di Maluku juga ditemukan lukisan-lukisan di dinding goa dan batu karang, berwarna merah dan putih wujudnya cap tangan, kadal, manusia dengan membawa perisai berwarna merah, lukisan burung, dan perahu berwarna putih. Selain itu, dijumpai pula lukisan manusia sedang menari dan berkelahi, manusia bertopeng, atau lukisan wajah.
Di Irian Jaya ada lukisan di dinding goa dan karang. Pada umunya lukisanlukisan yang ditemukan di Irian Jaya mirip dengan lukisan-lukisan yang ditemukan di Pulau Kei daerah Maluku. Bentuknya juga beraneka ragam, seperti cap tangan, orang, ikan, perahu, binatang melata, dan cap kaki. Selain itu, terdapat juga lukisan abstrak seperti garis-garis lengkung atau garis-garis lingkaran.
Seni relief ditemukan pada dinding kubur megalitik, seperti sarkofagus atau dolmen. Di Jawa sarkofagus dan dolmen yangn memiliki relief ditemukan di Tegal Ampel di Bondowoso, Jawa Timur, dan Tegalang-Bali. Objek lukisan relief tersebut berbentuk manusia, binatang, dan pola-pola geometris. Di antara ketiga obyek itu agaknya obyek manusia yang paling banyak dilukiskan. Contohnya relief yang terdapat di sarkofagus yang ditemukan di Bondowoso dan di Bali. Relief yang terdapat di Bondowoso terdiri dari lima manusia dan binatang. Selain daripada itu, objek lukisan berupa manusia juga terdapat pada tutup dolmen yang ditemukan di desa Tlogosari, Bondowoso.
Seni patung baik patung dari batu maupun patung dari perunggu umumnya berupa figur manusia dan binatang. Patung batu pada masa itu dibuat dengan teknik pahat sederhana yang pahatannya dilakukan pada bagianbagian tertentu saja, yaitu muka atau tangan. Kesederhanaan itu juga tampak pada penggarapannya yang agak kasar dan terkesan kaku. Hal ini dapat dipahami karena latar belakang pembuatan patung pada masa itu, adalah untuk pemujaan nenek moyang dan patungnya sendiri ditempatkan di dekat kubur.
Patung-patung manusia ini ditemukan di Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Patung yang ditemukan di Cirebon, Gunung Kidul, dan patung yang ditemukan di Bada, Sulawesi Tengah, berupa batu besar yang bagian atasnya dipahat sehingga berbentuk muka manusia. Patung-patung batu dengan obyek sederhana, hanya bagian atas yang mengalami pengerjaan, sedangkan bagian bawah dibiarkan polos atau bagian kaki sengaja tidak dipahat. Bagian bawah patung yang berbentuk meruncing itu, dimaksudkan untuk mempermudah ditancapkan ke dalam tanah.
 
 
Sumber:
http://adalobang.blogspot.com/2013/10/budaya-zaman-bercocok-tanam.html

No comments:

Post a Comment