Saturday, October 11, 2014

Jelajah Pangkep (3): Memasyarakatkan Wisata Ramah Karst

Jelajah Pangkep (3): Memasyarakatkan Wisata Ramah Karst

Wednesday, 23 October 2013, 16:48 WIB
Republika/Aditya Pradana Putra
Gua Kallibong
Gua Kallibong


REPUBLIKA.CO.ID, Melihat keindahan gua-gua penuh ornamen unik dan peninggalan-peninggalan pra sejarah yang ada di Karst Maros Pangkep berarti melihat potensi magnet wisata yang akan mendatangkan keuntungan ekonomi bagi pemerintah maupun masyarakat setempat.
    
Pakar konservasi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Arzyana Sunkar mengatakan, kawasan Karst Maros Pangkep memiliki potensi wisata yang setara dengan kawasan karst serupa di Guilin, Cina bagian selatan  dan Ha Long Bay, Vietnam.
    
"Namun, belum adanya kesadaran pemanfaatan potensi tersebut oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia menjadikan Karst Maros Pangkep kalah pamor dengan dua kawasan tower karst lainnya di Cina dan Vietnam," kata Arzyana.
    
Dua kawasan tower karst di Cina dan Vietnam tersebut telah menjadi wisata unggulan. Bahkan, Karst Guilin mulai mengalahkan destinasi yang selama ini menjadi ujung tombak wisata andalan Cina, Tembok Besar Cina (Great Wall).
    
Pemerintah dan masyarakat kedua negara tersebut memanfaatkan kawasan karst mereka hanya untuk wisata tanpa merusak dengan eksploitasi material-material yang ada di kawasan karst tersebut.
    
Alih-alih dijadikan kawasan wisata ramah lingkungan, Karst Maros Pangkep saat ini menghadapi ancaman kelestarian dengan masih banyaknya titik tambang, beberapa di antaranya untuk kebutuhan pabrik semen dan batu marmer.
    
"Pemanfaatan yang ramah lingkungan dapat menyelamatkan kawasan karst dari kehancuran. Karst Maros Pangkep, seperti halnya kawasan karst lainnya yang menjadi kawasan penampung air dan habitat dari berbagai macam makhluk hidup, khususnya makhluk-makhluk endemik kawasan itu," kata Arzyana.
    
Menurut Arzyana, wisata dengan konsep pelestarian merupakan solusi efektif dalam pemanfaatan kawasan Karst Maros Pangkep yang bijak.

Kearifan Lokal
    
Senada dengan Arzyana, pakar geologi asal Institut Teknologi Bandung (ITB) Budi Brahmantyo mengatakan, dua destinasi wisata di Vietnam dan Cina bagian selatan telah memberikan bukti bahwa kawasan karst dapat memberikan manfaat secara ekonomis selain ditambang materialnya.
    
"Dengan mengadaptasi apa yang telah dilakukan di dua negara tersebut, kita bisa memanfaatkan potensi Karst Maros Pangkep tanpa harus merusaknya," kata dia.
    
Tidak harus dengan melakukan pembangunan infrastruktur secara besar-besaran, akses jalan dan sarana sanitasi yang baik, menurut Budi, menjadi syarat sebuah destinasi wisata minat khusus. Selanjutnya, untuk penginapan dapat memberdayakan rumah-rumah penduduk setempat sebagai lokasi "home stay" bagi wisatawan.
    
"Kearifan lokal saat ini menjadi tren daya tarik sebuah destinasi wisata, khususnya bagi kalangan wisatawan minat khusus. Bahkan bagi wisatawan-wisatawan dari negara maju, mereka rela membayar mahal untuk mendapatkan sensasi bersama kearifan lokal yang ada di daerah tujuan mereka," kata Budi.
    
Desa-desa di sekitar kawasan Karst Maros Pangkep memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang cukup menarik. Rumah-rumah panggung kayu dengan warna-warni mencolok memiliki magnet bagi pengunjung untuk mendekat dan berinteraksi dengan penghuni-penghuninya yang ramah.
    
Kehidupan desa yang tenang memberikan suasana menyenangkan tersendiri, khususnya bagi pengunjung yang berasal dari kota. Selain menikmati pemandangan dan suasana, pengunjung juga bisa ikut melakukan aktivitas keseharian warga, seperti bercocok tanam dan menggembalakan hewan ternak.
    
"Tak hanya memberikan wawasan tentang pentingnya kawasan karst, cara menyikapi pengunjung dari berbagai latar belakang budaya termasuk penting diberikan kepada penduduk setempat," kata dia.
    
Melalui pemberdayaan seperti itu, menurut Budi, juga akan memberikan keuntungan secara ekonomi bagi penduduk setempat dalam pemanfaatan potensi wisata kawasan tersebut.

Janji Pemerintah Setempat

Bupati Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) Syamsuddin A Hamid mengakui pihaknya belum memanfaatkan secara maksimal potensi wisata kawasan Karst Maros Pangkep di wilayahnya.
    
Semakin banyaknya wisatawan minat khusus dan peneliti baik dalam negeri maupun asing mendorong pihaknya untuk segera membenahi pengelolaan kawasan karst tersebut, termasuk pengelolaan wisata.
    
"Tidak akan ada lagi izin tambang di kawasan karst tersebut yang kami keluarkan. Pemerintah akan fokuskan pemanfaatan kawasan karst yang lebih ramah lingkungan," janji Bupati.
    
Selain itu, lanjutnya, konsep desa wisata akan dikembangkan di sejumlah desa agar kawasan tersebut siap menerima wisatawan maupun peneliti yang mengunjungi Karst Maros Pangkep.
    
"Saat ini kami sudah mengembangkan Desa Wisata Tompobulu, selanjutnya sejumlah lokasi akan kami siapkan, salah satunya di Desa Belae, Minasatanae," kata Bupati.
    
Dengan menggerakkan pemerintah desa dan organisasi kepemudaan setempat, konsep wisata tersebut mulai dikembangkan.
   
Selain itu, dia mengatakan, acara-acara khusus seperti International Cave Festival yang mempertemukan pecinta gua dari berbagai daerah akan dilakukan secara rutin setiap tahun.
    
Dengan semakin banyaknya jumlah kunjungan, Bupati berharap, kontribusi wisata yang saat ini tidak lebih dari sepuluh persen terhadap pemasukan kas daerah dapat ditingkatkan.
   
Tak hanya sebagai pemasukan, lanjut Syamsuddin, pemanfaatan potensi wisata dengan memberdayakan masyarakat setempat juga diharapkan dapat berkontribusi dalam menjaga kelangsungan Karst Maros Pangkep sebagai daerah penampung air dan habitat bagi makhluk-makhluk di dalamnya.
    
Sementara itu, pengunjung yang juga penggiat telusur gua asal Surabaya, Djuhariono mengatakan, janji pemerintah untuk menjaga kelestarian dalam pemanfaatan potensi kawasan Karst Maros Pangkep menjadi sesuatu yang ditunggu masyarakat, khususnya penduduk setempat.
    
Dia berharap, pemerintah dapat segera merealisasikan janjinya dalam membuat kebijakan dan upaya perlindungan kawasan Karst Maros Pangkep sehingga pamornya menyamai atau mungkin melebihi dua destinasi karst yang sudah terkenal dulu di Vietnam dan Cina.


Sumber:
http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/travelling/13/10/23/mv48l9-jelajah-pangkep-3-memasyarakatkan-wisata-ramah-karst

No comments:

Post a Comment