Saturday, October 11, 2014

Jelajah Pangkep (4): Badik, Simbol Harga Diri Masyarakat Bugis Makassar

Jelajah Pangkep (4): Badik, Simbol Harga Diri Masyarakat Bugis Makassar

Wednesday, 23 October 2013, 17:10 WIB
Republika/Aditya Pradana Putra
Badik
Badik
A+ | Reset | A-
REPUBLIKA.CO.ID, Di balik deretan bukit-bukit karst yang menjulang, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) masih menyimpan tenaga-tenaga terampil pembuat senjata khas Suku Bugis Makassar, badik.
     
"Badik bagi kami bukan sekadar senjata, tetapi juga simbol harga diri. Badik hanya akan kami gunakan sebagai senjata ketika ada yang melecehkan saya dan keluarga saya," kata salah seorang warga pemilik badik, Muhammad Jafar (40).
     
Pada masa kolonial, kata Jafar, badik banyak digunakan pejuang Sulawesi Selatan dalam melawan penjajah, termasuk pada masa kejayaan Sultan Hasanuddin. 
     
Pada masa lalu, para prajurit kerajaan Bugis atau Makassar memakaian badik tergantung situasi saat itu, misalnya, badik  ditempatkan di pinggang bagian belakang pada masa damai dan ditempatkan di depan pada masa perang, dan disamping pada masa siaga.
     
Saat ini senjata badik tidak bisa digunakan secara bebas karena aturan hukum secara ketat melarangnya.
     
"Namun, hal tersebut tidak berlaku di kawasan pinggiran kota dan pedesaan. Badik digunakan menjadi senjata setiap ada salah satu pihak merasa ndilecehkan," kata Jafar.
     
Karena menjadi simbol hara diri, senjata badik tidak mudah berpindah tangan, kecuali sebagai warisan bagi keturunan sang pemilik. 
     
Badik menjadi lebih spesial lagi karena menurut kepercayaan setempat, pembuatannya juga dilakukan berdasarkan hari lahir ataupun hari-hari penting calon pemilik badik.    
     
Sementara itu, keberadaan pembuat badik sendiri saat ini semakin berkurang seiring surutnya minat generasi muda dalam melanjutkan warisan keahlian membuat badik.
     
Selain itu, aturan hukum yang semakin ketat melarang penggunaan senjata tajam itu secara bebas juga menyurutkan minat masyaakat untuk memilikinya.
     
Desa Ujung Loe di Kecamatan Minase'tene, menjadi daerah yang masih menyimpan banyak pandai besi yang ahli membuat senjata.
     
Pembuat badik setempat, Haji Safarudin (67) mengatakan, jumlah pembuat badai di Minasa'tene mencapai ratusan. Akan tetapi, lanjutnya, kini jumlahnya bisa dihitung dengan jari.
     
"Saya sendiri hanya membuatnya jika ada pesanan yang jumlahnya belum tentu ada satu pun dalam sepekan," kata dia.
     
Bulan Ramadhan merupakan waktu ramainya pesanan badik. safarudin mengatakan, masyarakat setempat mempercayai pembuatan badik di bulan Ramadhan akan memberikan pengaruh tersendiri pada kuatnya badik.
     
Di samping itu, bentuk-bentuk badik juga berbeda-beda tergantung asal daerah badik itu berasal. Badik Makassar memiliki kale (bilah) yang pipih, battang (perut) buncit dan tajam serta cappa’ (ujung) yang runcing, sementara Badik Bugis Kawali Bone memiliki bessi atau bilah yang pipih, ujung runcing dan bentuk agak melebar pada bagian ujung, sedangkan kawali Luwu memiliki bessi pipih dan berbentuk lurus. 
     
Harga dari sebuah badik yang dibuat Safarudin mencapai antara Rp 500.000 hingga ratusan juta rupiah tergantung keistimewaan masing-masing badik.
     "Ada orang-orang tertentu yang memiliki keahlian menilai keistimewaan sebuah badik, semacam juru taksir," kata Safarudin yang telah 50 tahun menggeluti pembuatan badik.
     
Seorang pedagang badik, Andriani Dolo (38) mengatakan, keistimewaan sebuah badik tidak hanya pada bahan dan kualitas pembuatan bagian utamanya, tetapi juga pada pegangan.
     
"Sisi keindahan dan sejarah dari tiap badik berpengaruh pada tingginya harga. Akan tetapi, harganya yang selangit tidak menyurutkan minat kolektor untuk membeli badik di tempat saya," pamer Andriani.
     
Karena ketatanya pengawasan, Andriani mengatakan, pengiriman badik keluar Sulawesi tidak bisa dilakukan melalui pesawat udara. Banyak dari pembeli dari luar Sulawesi membawa badik yang dia dapat melalui kapal laut yang pengawasannya tidak seketat melalui jalur udara.
     
Meskipun semakin sedikit pembuat dan peminat badik, Andriani berharap badik tetap bertahan sebagai simbol harga diri serta identitas bagi masyarakat Bugis Makassar.


Reporter : Aditya Pradana Putra
Redaktur : Fernan Rahadi

Sumber:
http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/travelling/13/10/23/mv49lf-jelajah-pangkep-4-badik-simbol-harga-diri-masyarakat-bugis-makassar

No comments:

Post a Comment